Oleh Sara Barnes

Tim Samsara telah melewati satu minggu perjalanan! Tia dan saya sampai di Manado pada 21 Oktober 2013. Kami lelah sekali setelah perjalanan panjang dari Yogyakarta, tapi kami juga sangat bersemangat untuk memulai sharing pengetahuan kami tentang Kesehatan Reproduksi selama perjalanan satu bulan penuh ini.

Kami bahkan memulai sharing kami lebih cepat dari yang kami harapkan. Dalam mini bus (angkot) dari bandara menuju hotel, kami berbagi dengan beberapa penumpang tentang kontrasepsi dan relasi yang sehat. Kami juga sempat memberikan stiker pemeriksaan payudara mandiri kepada Lea (33 tahun) untuk dibagikan di komunitasnya. Mini bus yang kami tumpangi benar-benar berbeda dari yang biasa ada di Yogyakarta, kota basis Samsara, mini bus di Manado dilengkapi dengan lampu senter, musik yang keras, bahkan televisi!

Setelah bersantap malam di warung terdekat, kami mendapati bahwa ada beberapa perbedaan bahasa antara Sulawesi dan Jawa. Misalnya, di Manado dianggap sopan apabila memanggil perempuan yang kita belum ketahui namanya dengan sebutan ‘Cewek’ (yang juga berarti ‘perempuan’ dan dianggap kasar di Jawa). Di sebagian Jawa biasa menggunakan ‘Mbak’, di Flores ‘Nona’ adalah panggilan yang umum digunakan. Kemudian kami bertemu dengan dua orang Sahabat Samsara, Hendra dan Dea yang berbagi dengan kami gambaran isu seks dan seksualitas di komunitas mereka di Manado.

Selasa pagi kami berkeliling kota dan menemukan jalan menuju ke laut di mana kami dapat menikmati es teh di sebuah warung kecil. Ini juga menjadi pengalaman kami melihat daging tradisional Manado, antara lain anjing, tikus, dan ular. Tidak ada dari kami yang bahkan tergoda untuk mencobanya! Sore harinya kami bertemu dengan rekan kami di PKBI Sulawesi Utara. Kami datang ke kantor PKBI untuk berbagi strategi kerja sama dalam konseling dan membantu perempuan yang mengalami kehamilan tidak direncanakan. Sisa sore itu kami habiskan dengan menempelkan stiker sepanjang perjalanan kembali ke hotel. Malam harinya kami gunakan untuk merencanakan workshop keesokan harinya.

Hari Rabu adalah saatnya mencari makanan tradisional yang sesuai perut kami. Tinutuan, bubur yang terbuat dari ubi, jagung, dan bayam untuk sarapan kami. Kedatangan kami ke Warung bubur Wekeke itu tidak mengecewakan. Saat kami makan, kami menyadari bahwa semua pekerja di warung itu adalah perempuan. Segera saja kami memulai pembicaraan dengan beberapa pekerja perempuan di sana. Mereka tampak tertarik dengan apa yang kami kerjakan di Manado. Tia secara spontan langsung menginisiasi workshop kecil di warung bubur itu. Ada 10 perempuan yang bergabung dalam workshop dadakan tersebut. Tia banyak menjawab pertanyaan seputar anatomi, fisiologi, kesehatan reproduksi, dan kontrasepsi. Malam harinya kami pindah ke rumah Dea (salah satu Sahabat Samsara) agar kami lebih nyaman untuk bekerja.

Tanggal 24 Oktober 2013, sementara Tia bekerja untuk hotline konseling Samsara, Sara pergi ke sebuah kampus bersama Dea untuk berbicara dengan para pemuda dan komunitas untuk membahas workshop di malam harinya. Banyak pembicaraan santai tentang feminisme dan patriarki dan kami juga mendapat banyak teman baru. Salah seorang teman baru kami, Ghia mengundang kami untuk datang ke kota Kotamobagu pada hari Sabtu untuk mengadakan workshop bagi perempuan di kampungnya.

Pada malam harinya, kami mengadakan workshop di komunitas Dea. 6 orang perempuan muda bergabung bersama kami untuk belajar tentang anatomi, fisiologi, kesehatan reproduksi, kontrasepsi, praktik melakukan pemeriksaan payudara mandiri, dan belajar tentang pilihan-pilihan yang dimiliki perempuan saat mengalami kehamilan tidak direncanakan. Setelah workshop selesai, teman-teman dari komunitas Dea ini memperkenalkan kami pada lebih banyak makanan tradisional Manado. Salah satunya adalah Saraba, minuman lezat yang terbuat dari jahe dan susu dan juga Milu Siram, sup jagung yang gurih.

Pada hari Jumat, kami menghabiskan waktu untuk mengurus administrasi dan membuat rencana untuk beberapa hari ke depan. Malam harinya kami nongkrong bersama beberapa teman baru kami dan belajar sedikit tentang perjuangan komunitas nelayan lokal yang hampir kehilangan mata pencaharian mereka akibat proyek reklamasi untuk pembangunan sebuah mall. Proyek reklamasi itu sudah berlangsung beberapa waktu, tapi mereka masih tetap memiliki semangat untuk berjuang. Hal ini menjadi menarik bagi kami saat mendengarnya dari Dewi seorang perempuan yang berjuang di pergerakan itu. Isu patriarki dialami komunitas yang bekerja di lahan yang coba mereka selamatkan. Dewi berbagi, bahwa meskipun perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki sudah tertanam kuat, tetapi semakin banyak pula laki-laki yang membantu memasak dan mencuci piring- semoga nantinya perempuan dan laki-laki bisa membagi tugas domestik secara setara.

Kami mengambil waktu sejenak untuk santai dengan melakukan karaoke. Ini adalah pengalaman pertama Sara untuk bernyanyi lagu-lagu lama Indonesia dan kami banyak sekali tertawa-Aduh! Kemudian kami bertemu dengan beberapa laki-laki muda dan kami mulai berbicara tentang kontrasepsi : bagaimana metode-metode kontrasepsi bekerja, apa saja yang termasuk kontrasepsi darurat, dan bagaimana laki-laki dapat mendukung pasangan mereka dalam memiliih metode kontrasepsi yang tepat bagi mereka.

srhrsw

Hari Sabtu kami memulai perjalanan bersama Ghia. Menuju Kotamobagu memakan waktu lebih lama daripada yang kami perkirakan, karena ada demonstrasi di perjalanan kami ke sana. Kami sampai di Kotamobagu dengan lelah tapi juga senang untuk mempersiapkan workshop di hari Minggu. Malam minggunya kami nongkrong dengan satu kelompok besar orang-orang di Kampung dan berdiskusi tentang body image (citra tubuh), patriarki, dan bagaimana orang-orang muda ini dapat saling mendukung dan menyemangati perempuan di hidup mereka untuk menjadi lebih setara.

Hari Minggu kami mengadakan workshop untu perempuan di Kampung Gogagonan, Kotamobagu. Lebih dari 20 perempuan berusia antara 12 tahun sampai 60 tahun bergabung bersama kami untuk belajar tentang pemeriksaan payudara mandiri dan tanya jawab seputar kesehatan reproduksi. Kami membahas tentang cara membersihkan organ reproduksi secara rutin, penyakit menular seksual, kanker, kontrasepsi, dan banyak topik yang terkait isu kesehatan reproduksi.

Akhirnya kami bergerak lagi- semoga kami bisa beristirahat satu hari di Gorontalo dan menjalankan layanan hotline konseling pada hari Senin. Minggu depan kami akan mempublikasikan pengalaman kami lagi, tapi jika kalian tidak bisa menunggu sampai minggu depan, maka silakan melihat di akun facebook (SAMSARA YK) dan akun twitter kami (@samsar4) untuk update berita harian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here