Sudah bukan hal baru bagi anak muda untuk menjalin hubungan dengan orang lain, bahkan semenjak duduk di bangku sekolah. Memiliki pasangan tentu bukan suatu yang salah karena setiap orang memiliki keyakinan masing-masing, baik kapan, dengan siapa dan untuk alasan apa.

Melihat di sekitar kita, berpacaran merupakan hal yang lumrah dilakukan. Seiring perkembangan waktu, tentu terjadi perubahan dalam pola relasi pacaran. Bila di era orang tua kita, cukup bertamu ke rumah pacar dan saling melihat saja sudah cukup, namun hal demikian kemungkinan sudah jarang ditemui terutama bagi kita yang tinggal di kota besar. Saat ini, belum pacaran namanya bila belum pernah hangout berdua. Didukung dengan berkembangnya teknologi yang mempermudah kita untuk menjalin hubungan dengan pasangan, tanpa harus bersusah payah menghitung hari menunggu pak pos mengantar balasan surat dari pacar.

Dalam menjalani hubungan, tentu ada berbagai macam perbedaan antara satu pasangan dengan yang lainnya. Cara saya menjalani hubungan dengan pasangan, tentu berbeda dengan yang teman-teman jalani. Saya dan pasangan lebih mengutamakan untuk menghargai satu sama lain. Meskipun kami berpacaran, bukan berarti tidak ada privasi di antara kami. Ada kalanya, kami meluangkan waktu untuk ‘me time’ dan hal ini merupakan komitmen bersama untuk memberi kesempatan kepada pasangan menikmati harinya tanpa gangguan—begitu pula sebaliknya. Meski terkadang sulit untuk tidak mengetahui apa yang sedang dilakukan pasangan, bukan berarti saya harus memaksakan pacar untuk selalu ada di sisi saya.

Pasti terdapat perbedaan dalam relasi antara saya dengan pasangan dan relasi yang teman-teman jalani. Ada pula pasangan yang ke manapun harus berdua. Mungkin ada juga di antara teman-teman yang begitu peduli ke mana pasangan akan pergi, namun disalahartikan sebagai bentuk mengatur ruang gerak pasangan. Bahasa kekiniannya: posesif. Bagi pria, pada dasarnya ada keingingan untuk mengayomi pasangannya, dan ini bisa ditunjukkan dengan mengantar-jemput pasangan. Cara tersebut dipandang sebagai bentuk tanggung jawab sebagai pasangan.  Namun, ada pula pasangan yang ke mana saja selalu sendiri kecuali saat kencan karena tidak ingin bergantung pada pasangannya.

Perbedaan itu wajar karena setiap pasangan memiliki caranya sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana mengomunikasikannya dengan pasangan. Tapi ingat, meskipun gaya berpacaran orang berbeda-beda, bukan berarti risiko terjadinya kekerasan dalam pacaran adalah nol.

Kekerasan dalam pacaran, sering juga disingkat menjadi KDP, sering diawali dari komunikasi yang tidak baik antara kita dan pasangan. Jangan sampai bentuk kepedulian kita terhadap pasangan kemudian disalahartikan sebagai keharusan pasangan untuk selalu mengikuti kemauan kita. Seperti apa yang diungkapkan Wekerle & Wolfe (1999), “…control or dominate another person physically, sexually, or psychologically causing some of level of warm.”[1]

Dari data LBH APIK selama 2015, 22% bentuk kasus KDP adalah kekerasan seksual, ingkar janji dinikahi sebesar 35%, kekerasan fisik sebanyak 26% dan memanfaatkan ekonomi pasangan sebesar 17%. Kekerasan seksual tidak hanya dilakukan secara fisik melainkan juga verbal dengan mengatai pasangannya.

Untuk meminimalisir adanya KDP tentu kita perlu mengetahui terlebih dahulu indikasi adanya kekerasan dalam sebuah hubungan. Setidaknya ada 10 tanda relasi yang tidak sehat, misalnya cemburu berlebihan atau posesif; emosi terhadap pasangan yang meledak-ledak; mengintimidasi; meremehkan atau mengejek pasangan; menguntit, baik secara fisik maupun digital; mengecek akun social media, email dan ponsel tanpa izin; menjauhkan pasangan dari keluarganya; munuduh yang tidak tidak-tidak; memaksa untuk berhubungan seksual; dan menolak menggunakan kontrasepsi (kondom) saat berhubungan seksual.

Dalam menjalin hubungan tentu ada kalanya kita berbeda pendapat dengan pasangan. Oleh karena itu untuk menghindari adanya KDP, komunikasi yang baik dengan pasangan sangat diperlukan guna menjalin relasi yang sehat. Melalui komunikasi yang baik, maka kita akan semakin mengenal pasangan dan tahu seluk beluk pasangan; termasuk bagaimana dia memperlakukan orang lain. Seperti yang dikemukakan oleh Kisara di tahun 2016, dalam memulai hubungan juga harus didasari untuk berani mengambil sikap, berani mengatakan tidak dan menghentikan hubungan dengan pasangan ketika terjadi tindak kekerasan. Selanjutnya, membuat komitmen antar pasangan sebelum memulai hubungan sehingga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bisa mempertanyakan pada pasangan bagaimana komitmen pada waktu memulai hubungan. Yang terakhir adalah mengenalkan pasangan kepada keluarga untuk meminimalisir tindak kekerasan karena timbul perasaan sungkan pada pasangan terhadap keluarga kita.[2]

Terlepas dari pro dan kontra berpacaran, relasi yang sehat merupakan hal yang harus diterapkan. Sehingga hubungan yang terjalin berjalan lancar tanpa ada beban bagi salah satu pihak. Dengan begitu, berpacaran menjadi penyemangat bagi kita dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sejauh mana hubungan kita dengan pasangan berjalan? Mari mengomunikasikannya dengan pasangan kita.

[1] Wekerle, C., & Wolfe, D. A. (1999). Dating violence in mid-adolescene: Theory, significance, and emerging prevention initiatives. Clinical Psychology Review.
[2] Shintyadita, Putu Noni (2016). Kekerasan Dalam Pacaran. Kisara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here