Menginterupsi Budaya Populer, Menyudahi Budaya Perkosaan

168
budaya populer

Di masa major label musik berjaya, sekitar sebelum tahun 2011, saya banyak menemukan lirik yang seksis dan misoginis menghiasi musik yang sering kita dengar. Kemudian banyak klip video yang mengobjektifikasi tubuh perempuan. Seolah menjadi hal yang lumrah, musik-musik tersebut menemani saya tumbuh di masa remaja.

Disadari atau tidak kita hidup di budaya yang menganggap objektifikasi perempuan adalah sebuah hal yang lumrah. Tidak heran kemudian ketika kita menemui peristiwa kekerasan seksual, pemerkosaan misalnya, dengan mudah kita menyalahkan korban. Dimana dominannya adalah perempuan. Tiba-tiba kita berlomba untuk menghakimi cara seseorang berpakaian, sikap seseorang, bahkan moral seseorang.

Pertengahan 2016 silam kita dikagetkan dengan kekejian luar biasa. Seorang gadis kecil diperokosa hingga meninggal dunia oleh beberapa laki-laki yang umurnya setingkat kakaknya sendiri. Peristiwa ini menjadi lonceng tanda bahwa perkosaan sudah membudaya hingga pada tingkat anak-anak sekolah. Tanda bahwa Indonesia darurat kekerasan seksual. Dentang lonceng itu berbunyi hingga hari ini. Misalnya dengan terus disuarakannya Rencana Undang-undang  Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) agar segera disahkan jadi UU PKS.

Hal itu penting karena selama ini prosedural hukum untuk menangani korban kekerasan seksual masih minim. Bahkan cenderung mengabaikan korban kekerasan seksual. Lihat saja bagaimana pertanyaan Berita Penanganan Acara (BAP) Kepolisian untuk korban kekerasan seksual yang sangat misoginis.

Perlakuan misoginis dan seksis dari aparatus negara dengan prosedural birokrasi hingga masyarakat luas, dibangun dari budaya dan produknya yang setiap saat dikonsumsi. Media massa juga punya adil menguatkan ekosistem patriarkis ini.

Tidak mudah untuk mengubah pandangan masyarakat yang misogenis tersebut. Namun, menjadi sebuah keharusan untuk dunia yang lebih manusiawi dengan nilai-nilai kesetaraannya. Oscar Lolong, seorang musisi asal Jakarta, mengabadikan kasus Yuyun menjadi sebuah tembang. Untuk menjaga ingatan kita, betapa kejinya kekerasan seksual yang terus berulang.

Awal Januari 2017, ia merilis “Little Sunny Girl”. Lewat tembang yang dinyanyikan dengan gaya folks tersebut, hati kita dibikin teriris-iris. Ia mengemas kekerasan seksual dengan sangat memikat telinga. Asik didengarkan. Kemudian, dibuat prihatin. Oscar mengemas cerita pernikahan dini dan kekerasan dalam rumah tangga yang dianggap normal oleh masyarakat dalam tembangnya.

Saya menghayati apa yang ingin disampaikan Oscar. Bagaimana Ia, juga saya, menyadari betul bahwa pengabaian atas kekerasan seksual oleh masyarakat adalah beban ganda yang dialami korban. Pilihan untuk terus bersama dalam belenggu kekerasan seksual disampaikan Oscar dengan ciamik. Tanpa menghakimi korban, Ia sampaikan dengan sendu yang meraung-raung perih dan tetap atraktif.

Musik memang alat yang mumpuni untuk menyampaikan kegelisahaan. Sehingga patut kita apresiasi usaha pria kelahiran 1993 ini, dengan kepeduliannya ia mengangkat isu anti kekerasan seksual dengan cara populer. Yaitu lewat musik.

Danila Riyadi, musisi yang tengah naik daun, mengemas tragedi femisida yang menimpa Junko Furuta. Seorang gadis SMA dari Jepang berusia 17 tahun yang diculik kemudian diperkosa oleh empat orang bergilran dan disiksa dengan sangat kejinya selama 44 hari hingga akhirnya meninggal dunia. Hanya karena menolak ajakan untuk berpacaran.

Hal serupa masih sering kita temui di pemberitaan media massa di Indonesia. Diculik, diperkosa, kemudian dibunuh. Hanya karena seseorang tersebut perempuan dan menggunakan haknya untuk berbicara dan menolak. Celakanya lagi masih ada sekelompok masyarakat yang kemudian menyalahkan korban. Pun korban sudah sedemikian menderitanya,  pandangan misoginis akan selalu punya alasan untuk menyalahkan perempuan.

Danilla kerap membawakan “Junko Furuta” disetiap panggung yang diisinya. Ia mengkampanyekan anti-kekerasan seksual. Ia contoh musisi yang sedang naik daun dan konsisiten mengangkat isu-isu kesetaraan perempuan. Kita butuh banyak musisi yang mengkampanyekan kesetaraan dan anti-kekerasan seksual. Untuk menyudahi anak-turunannya patriarki: misoginis, rape culture, victim blaming, dsb.

Membudayakan Kesetaraan dengan Populer

Kehadiran perempuan—juga isu perempuan—dalam media bagaikan buah simalakama. Di satu sisi, media dapat berfungsi sebagai wadah aktualisasi diri bagi perempuan. Namun di sisi yang lain seringkali perempuan hanya dilihat sebelah mata bagi para laki-laki, juga masyarakat yang patriarkis, maupun mesin-mesin yang memproduksinya sebagai sebuah objek. Media selama ini cenderung mereduksi perempuan hanya semata persoalan objek. Itu yang diungkap Mariana Amiruddin dalam judul “Mitos Kecantikan di Media, Sebuah Kritik Feminis” di Jurnal Perempuan.

Budaya populer hanya bisa menjadi budaya populer jika melalui media dan dikonsumsi oleh banyak orang. Media juga budaya populer, di dalamnya punya peran signifikan dalam mempengaruhi corak pandang masyarakat. Pertarungan untuk mengubah budaya patriarkis, termasuk didalamnya kekerasan seksual, adalah dengan memasukan nilai-nilai feminisme dalam budaya populer.

Siapa yang akan memberikan lirik dan menyanyikan lagu untuk kisah perjuangan Emma Goldman, Rosa Luxemburg, atau Lucia Saronil? Sehingga semua orang mengenal ide-ide mereka. Untung di Indonesia ada Oscar Lolong dan Danila Riyadi yang masing-masing menyanyikan lagu untuk Yuyun dan Junko Furuta. Untuk menjaga ingatan kita, bahwa:bagaimanapun kekerasan seksual harus dihapuskan.

Budaya populer, bagaimanapun juga, adalah alat kendali pemilik modal atas selera masyarakat. Kapitalisme, disadari atau tidak, adalah penyangga patriarki. Sumbernya adalah sejarah. Bagaimana sejarah domistifikasi perempuan adalah sejarah perkembangan awal kapitalisme. Bagaimana sejarah perburuhan perempuan adalah sejarah pemantapan kapitalisme.

Hari ini, atas perkembangan tersebut, teknologi informasi seolah-olah menjadi milik bersama. Demokratis seutuhnya. Tanpa intervensi siapapun, terutama negara. Sehingga seseorang dapat mencapai posisi tertentu hanya karena dirinya sendiri atas mekanisme pasar yang adil. Teknologi informasi, khususnya internet membuka diri pada siapapun untuk menyalurkan aspirasinya seluas-luasnya dengan leluasa.

Jenis produksi ini salah satunya ada di industri media dan produk seni budaya. Sehingga seseorang, sebelum teknologi informasi berkembang pesat, harus mengikuti prosedur produsen penyedia jasa produksi produk media atau seni budaya yang sangat otoritatif dan total berorientasi pasar. Kini tidak lagi. Ia bisa memproduksi media atau produk seni budaya sesuai keinginannya. Bahkan memungkinkan membentuk ekosistem pasar sendiri.

Industri musik adalah contohnya. Hari ini banyak sekali seorang penyanyi merangkap produsen musik bagi setiap karyanya sendiri. Bahkan memasarkan karyanya sendiri. Apapun, hari ini, memungkinkan dilakukan oleh seseorang yang padahal beberapa tahun yang lalu tidak mungkin dilakukan.

Pada titik ini budaya populer menjadi sangat cair. Dulu yang dapat mengendalikan budaya populer adalah industri media dan seni budaya mainstream dengan modalnya yang besar. Kini tidak lagi. Selera atas produk seni budaya tidak lagi ditentukan oleh satu tangan besar. Kini, kita bisa memilih selera seperti apa yang ingin dinikmati.

Pertarungan atas wacana dan tafsir dari sebuah produk seni budaya juga terbuka sangat besar. Kita bisa mengkritik satu produk seni budaya dengan sangat leluasa di setiap kolom komentar lini masa yang disediakan berkat internet. Ikut andil di dalamnya adalah satu langkah maju.

Membawa isu kesetaraan dan anti kekerasan seksual di dalam produk seni budaya dan menjadikannya satu budaya populer, bagi saya, adalah kemenangan besar atas patriarki. Lantaran betapa bosannya saya mendapati konten budaya populer yang sangat seksis dan misoginis, selama ini. Tidak sedikit juga yang menjadikan konten budaya populer sebagai, disadari atau tidak, konten edukasi bagi banyak orang.

Mengabaikan dan kemudian menganggapnya sebuah kewajaran terhadap pelecehan seksual berimplikasi kepada banyak hal. Hal yang paling umum dan tidak disadari adalah kita mengizinkan kelompok atau orang lain merasa dominan dan memiliki hak untuk menguasai yang lain. Dengan  kata lain tindakan dominatif atas kelompok rentan lain yang lebih luas bisa membudaya. Sehingga membudayakan kesetaraan menjadi penting, hal kecil bisa kita mulai dengan bernyanyi, misalnya.

Triyo Handoko
Author: Triyo Handoko

Asisten Peneliti untuk riset layanan kesehatan seksual dan reproduksi ramah remaja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here