Kesehatan Mental, Maskulinitas, dan Singel Perdana Hindia

255
Baskara Putra
Foto: grid.id

Lagu “Secukupnya” menjadi teman saya ketika kesedihan bercampur kecemasan yang saya alami beberapa bulan yang lalu. Kemudian saya mendengarkan “Evaluasi” ketika mencoba untuk bangkit dari kesedihan dan kecemasan yang sulit sekali hilang. Kedua lagu tersebut direkomendasikan oleh seorang teman.

Secukupnya” dan “Evaluasi” adalah dua lagu perdana dari Baskara Putra dalam menjelajahi karir bermusiknya sebagai solois dengan nama panggung Hindia. Baskara yang sebelumnya dikenal karena band rock .Feast. Dikenal karena kepiawaiannya meracik lagu dengan tema alternative.

Hal itu ditunjukan dengan tema lagu-lagu .Feast yang belum banyak digarap oleh musisi lain. Misalnya soal perjuangan agraria petani dalam “Padi Milik Rakyat”, atau soal perjuangan pemeluk minoritas keagamaan dalam “Peradaban”. Tak cuma itu soal pandangan politik alternatif skeptis yang dimiliki anak muda juga ciamik diracik dalam “Kami Belum Tentu”.

Semua lagu diatas ada dalam satu album berjudul Beberapa Orang Memaafkan. Tidak hanya album ini saja yang mewadahi gagasan alternatif yang selama ini diabaikan. “Evaluasi” dan “Secukupnya” adalah dua lagu Baskara yang saya kira berhasil mewacanakan ulang soal kesehatan mental, khususnya kesedihan dan depresi. Bahwa kesadaran untuk memperhatikan kesehatan mental amatlah penting.

Kesedihan dan depresi selama ini diabaikan begitu saja oleh banyak orang. Jika ada tanggapan atas kesedihan dan depresi, pasti tanggapannya negatif. Dianggap lemah atau cengeng adalah tanggapan jamak atas mereka yang mengalaminnya.

Hal ini sudah  membudaya pada masyarakat kita. Budaya ini saya kira juga ditopang oleh produk budaya populer, seperti lagu, film, atau lainnya. Tentu jika kita ingat ada banyak sekali lagu yang menempatkan kesedihan dan depresi sebagai suatu hal yang cengen, berlebihan, bahkan lemah. Begitu juga soal film. Padahal lagu dan film secara sadar atau tidak, ikut mempengaruhi dan mendidik banyak orang.

Lagu dan film, bagi saya, adalah medium paling efektif dalam mengedukasi banyak orang. Baskara pada titik ini berhasil mengubah, bahkan mengedukasi banyak orang soal kesedihan dan depresi. Bahwa mereka tidak layak diperlakukan seperti yang sudah-sudah. Dianggap berlebihan, cengeng, atau lemah.

Racun Maskulinitas

Sebuah penelitian menunjukan laki-laki yang setuju terhadap norma maskulin cenderung memiliki kesehatan mental yang buruk. Seperti stress, depresi, cemas, isu kekerasan dan citra tubuh negatif. Penelitian tersebut dilakukan oleh Asosiasi Psikologi Amerika yang dikeluarkan dalam Jurnal Konseling Psikologi.

Menangis, misalnya, aktivitas psikologis yang sering dikaitkan dengan perempuan. Celakanya kemudian diasumsikan sebagai tanda kelemahan seseorang yang identik dengan perempuan. Padahal laki-laki, seperti saya misalnya, berhak untuk menangis. Dan tidak dikaitkan dengan bentuk gender apapun lainnya.

Masukulinitas beracun ini tidak hanya menghinggapi laki-laki, namun juga perempuan. Bahkan masyarakat secara umum mengidap maskulinitas entah disadari atau tidak. Selama tatanan masyarakat yang masih patriarkis, maskulinitas menjadi orientasi yang dominan dengan berbagai bentuk terselubungnya. Perkara menangis adalah contohnya.

Padahal menangis oleh banyak orang adalah ungkapan yang paling jujur akan dirinya sendiri. Menangis bukan kegiatan pasif, yang kemudian identik dengan sikap yang lemah dan pasrah, melainkan kegiatan aktif. Bagi saya menangis adalah sebuah titik untuk menyudahi kesedihan. Sebagai sebuah proses penerimaan atas apa yang sudah terjadi dan memulai menyususn sesuatu yang baru.

“Secukupnya” dan “Evaluasi” yang diracik dan dinyanyikan oleh Baskara tidak hanya mewacanakan ulang soal kesehatan mental. Namun juga kritik atas maskulinitas yang beracun. Dalam dua lagu tersebut tidak ada tendensi negatif atas aktivitas yang selama ini bertendensi negatif dengan label perempuan dan lemah. Basakara yang seorang laki-laki mengajak kita untuk “menangis” bersama-sama dengan sangat menyenangkan.

Lantunan yang Memeluk

Dalam “Secukupnya” saya merasa ada pelukan hangat, yang berkata bahwa kita tidak sendirian menghadapi permasalahan yang sedang menimpa. Hal tersebut bisa kita lihat dalam lirik, berikut:

“Dan akupun tak hadir seakan paling mahir
Menenangkan dirimu yang merasa terpinggirkan dunia
Tak pernah hadir, Kita semua gagal
Angkat minumanmu bersedih bersama sama
Sia sia (pada akhirnya)
Putus asa (terekam pedih semua)
Masalahnya (lebih dari yang)
Secukupnya”

Selain membuat tidak merasa sendirian. “Secukupnya” juga mengajak melihat esok hari yang semoga baik-baik saja. Tak sampai disitu dalam “Evaluasi” pelukan hangat itu mengajak untuk mengevaluasi hidup secara sederhana dan tidak berlebihan.. Hal ini disampaikan lewat lirik yang berbunyi;

“Bilas muka, gosok gigi, evaluasi
Tidur sejenak menemui esok pagi
Walau pedih ku bersamamu kali ini
Ku masih ingin melihatmu esok hari”

Dalam kedua lagu tersebut, mengajak kita untuk berani meninggalkan sumber kesedihan, kecemasan, dan perasaan negatif lainnya yang berujung pada depresi. Misalnya lingkungan yang toxic, pola konsumerisme yang tidak habis-habisnya, pola pretensiusitan, atau rutinitas yang memuangkan. Keadaan ini diwakilkan dalam “Secukupnya” pada bagian lirik intro  yang retrospektif:

“Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur tenang?
Tak perlu memikirkan tentang apa yang akan datang di esok hari
Tubuh yg berpatah hati
Bergantung pada gaji
Berlomba jadi asri
Mengais validasi”

Sangat berbeda dengan lagu pada umumnya yang mengeksploitasi rasa sedih yang berujung pada anggapan lemah, cengeng, dan berlebihan. Seakan-akan sedih adalah keadaan diri yang tidak lumrah. Baskara dengan tegas lewat “Evaluasi” dan “Secukupnya” melawan norma diatas.

Baskara membawa kita pada satu pemahaman baru bahwa sedih adalah lumrah. Sehingga tidak bisa dianggap remeh begitu saja dengan cibiran. Bisa dikatakan lewat dua lagu ini, Baskara membicarakan kesedihan dan depresi lewat prespektif orang yang mengalaminya.

Tidak hanya lagu, klip videonya juga patut kita apresiasi. Klip video untuk “Secukupnya” merupakan kumpulan cerita tragis dari orang-orang yang sedang menghadapi hidup. Pesannya sederhana tapi sangat merepresentasikan setiap insan yang tetap kuat menjalani hidup.

Sewaktu melihat klip video “Secukupnya” jujur saja saya meneteskan air mata. Sulit untuk dibendung, lagi pula untuk apa dibendung. Apalagi ketika sampai pada  bagian akhir klip video ini dimana ada sebuah disclaimer yang patut kita catat bersama, yaitu:

Semuanya hanya minta didengarkan, tidak ada yang minta ‘digembala’ melalui permintaan atas solusi. Saya rasa kita semua seperti itu. Kadang-kadang hanya ingin didengarkan, kadang-kadang ingin menghilang. Karena merasa lelah dengan tetek-bengek kehidupan itu wajar, dan merasa sedih juga wajar,”

“Jangan pernah merasa tidak pantas untuk menangis karena masalah yang kalian punya ‘tidak seberat’ masalah orang lain, yang mungkin saat ini sedang dililit hutang, atau nyawanya sedang kritis; tiap orang memiliki pertaruhannya sendiri-sendiri melawan dunia.”

 

Triyo Handoko
Author: Triyo Handoko

Asisten Peneliti untuk riset layanan kesehatan seksual dan reproduksi ramah remaja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here