Menarasikan Ulang Perempuan dan Tubuhnya

120
Perempuan
  • Penulis: Ayu Utami, dkk
  • Jumlah Halaman: 278 pages
  • Tahun Terbit: 2012
  • Penerbit: Yayasan Jurnal Perempuan, ISBN13 9789793520148

Buku kumpulan cerpen ini dimulai dari cerita seorang ibu yang mencari anaknya ketika tabuhan reformasi mulai berkumandang. Dihimpun dari rubrik Cerpen pada Jurnal Perempuan edisi No.9 tahun 1998. Hingga edisi No. 74 tahun 2012. Cerpen-cerpen di buku ini menjadi arsip bagaimana perjalanan perempuan dari memulai reformasi hingga melaksanakan amanat reformasi.

Hiruk pikuk reformasi tidak serta merta mengangkat posisi perempuan. Dimana ketika Orde Baru berkuasa selalu menegasikan perempuan sebagai subjek utuh. Bahkan perjalanan perempuan mendapatkan hak-haknya belum bisa dikatakan selesai hingga hari ini.

Peminggiran terhadap perempuan terus masih ada. Beberapa minggu ini, misalnya, muncul peminggiran perempuan dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP).
Kumpulan cerpen di buku ini berhasil memotret setiap kisah peminggiran perempuan dan bagaimana mereka berjuang melawan peminggiran tersebut. Disusun secara periodik, buku ini menyimpan 32 cerita yang masing-masing menyimpan kekuatannya.

Susan Hill, seorang penulis fiksi dan non-fiksi dari Inggris, pernah berkata bahwa “Short story is an unforgiving form”. Lantaran cerpen dengan keterbatasan ruang yang sempit, namun karena keterbatasan tersebut menyimpan daya ledak yang tinggi. Masing-masing cerpen di buku ini menyimpan kegetirannya sendiri. Kegetiran yang disuguhkan dengan aneka ragam.
Berbagai tema diangkat dalam kumpulan cerpen ini. Tema-tema seperti ekspresi tubuh dan seksualitas sangat dominan setelah Reformasi bergulir. Hal ini bisa dibaca dari bagaimana Orde Baru memperlakukan tubuh. Hingga puncaknya kekejian Orde Baru memperlakukan tubuh perempuan terjadi ketika banyak perempuan Tionghoa diperkosa secara sistematis di ruang-ruang publik. Menjelang Suharto turun tahta.

Cara daripada Orde Baru memperlakukan tubuh amatlah fasis. Sebelum Suharto turun ada banyak kebijakan rezim yang dengan terang-terangan mengatur tubuh. Misalnya kebijakan larangan memakai jilbab di sekolah-sekolah, tahun 1980an. Kemudian direntan waktu yang sama, peristiwa Penembakan Misterius. Dimana meletakan tubuh yang bertato sebagai indikator untuk pantas dibunuh.

Pada kurun waktu sebelumnya, tahun 1970an Orde Baru memperlakukan rambut gondrong sebagai sesuatu yang buruk dan pantas ditertibkan. Sehingga banyak oprasi, terutama Dinas Pendidikan, yang menggunduli siswa berambut gondrong.

Perkosaan masal secara sistematis pada Mei 1998 adalah kekejian paling fatal. Rezim memanfaatkan tubuh dan rasialisme untuk menyebar teror. Agar dapat menguasai keadaan yang sudah terlanjur hiruk pikuk meminta Suharto turun.

Pada beberapa percobaan penertiban masyarakat dengan membuat teror melalui politik tubuh, Orde Baru berhasil. Pada saat menjelang reformasi tidak berhasil karena perempuan atau mereka yang diletaki sebagai sasaran politik tubuh berhasil menolaknya. Mereka melawannya.

Perempuan yang Menarasikan

Semua cerpen di buku ini adalah perlawanan atas narasi yang selama ini coba ditanamkan atas tubuh dan perempuan. Para penulis disini menolak narasi mapan tersebut dengan membuat narasi baru soal tubuh dan perempuan melalui setiap cerita yang mereka suguhkan.

Hak kesehatan seksual dan reproduksi yang sering terabaikan adalah contoh peminggiran perempuan. Karya Eliza V Handayani dengan judul “Hak Atas Tubuh, Hak Untuk Ada” memulai diskusi tema ini. Apalagi dibungkus dengan kasus yang paling melawan tabu. Yaitu kesehatan seksual bagi perempuan yang tidak menikah namun aktif secara seksual.

Jadilah cerpen tersebut kritik tajam atas orientasi masyarakat yang patriarkis. Utamanya soal memandang kesehatan seksual perempuan. Termasuk praktik ginokolog yang harusnya ilmiah tanpa tendensi ideologis yang meminggirkan perempuan.

Soe Tjen Marching dengan cerpennya “Cailleach” bagi saya adalah yang paling mengesankan. Cailleach adalah dewi bermata satu dari Mitologi Keltik. Soe Tjen Marching mengkritik orientasi tubuh “yang baik” dengan analogi dan bahasa yang sederhana. Namun tepat sasaran, berikut misalnya petikan cerpennya:

“Ketika aku kecil, ada satu hal lagi yang kupelajari. Bahwa tubuhku berlubang di tengahnya. Hal ini membuatku seperti donat. Untuk mencapai kebahagiaan, kata mereka, donat ini harus diisi. Diisi oleh lelaki.” Hal 162.

Petikan diatas bagi saya menggelitik sekali. Sederhana dan dekat dengan kita, sebuah kue donat. Analoginya pun tepat untuk menggambarkan ketidaklogisan masyarakat yang misoginis patriarkis. Namun ketidakaklogisan tersebut diterima begitu saja.

Secara umum, Soe Tjen Marching ingin mengkritik pembebanan masyarkat misoginis patriarkis pada tubuh perempuan. Melalui standarisasi yang indah dan tidak atau yang cantik atau tidak. Khususnya soal payudara.

Berbeda dengan pandangan umum tentang payudara yang selalu digambarkan indah dengan keharusan sepasang, bulat, dan pejal. Soe Tjen Marching membahas payudara perempuan yang tinggal satu, karena kanker payudara. Tidak indah menurut pandangan masyarakat yang misoginis patriarkis. Lantaran tidak simetris menurut mereka, namun dengan bahasa yang sederhana Soe Tjen Marching dapat membalik pandangan tersebut. Berikut salah satu petikan perlawanan Soe Tjen Marching, pada cerpennya:

“Aku katakan, aku tidak keberatan menjadi seperti donat. Yang berlubang tanpa isi. Walaupun aku tidak hanya ingin menjadi donat yang terhampar di toko kue. Aku ingin menjadi donat yang menari. Aku ingin menari.” Hal 163.

Penggambaran tubuh dan posisi perempuan yang mengusik pembaca juga ditulis dengan sangat gamblang oleh Djenar Maesa Ayu dengan judul “Menyusu Ayah”. Kekuatan bahasa Djenar menggambarkan sisi gelap seksualitas sebagai sesuatu hal yang seolah-olah wajar. Dalam cerpen ini Djenar menggunakan model reptisi dalam menceritakan permasalahan pedofilia. Model tersebut semacam ramuan “bius” yang Djenar racik agar pembacanya bisa trance ke alam lain.

Lewat cerpen “Menyusu Ayah” Djenar berhasil membawa kita menabrak pakem “tabu”. Tokoh utamanya terasa eksistensialis dan sibuk bergulat dengan pemikiran tentang dirinya di antara orang lain. Lewat cara itu, Djenar berhasil mengobrak-abrik tatanan moral yang penuh hipokrisi. Misalnya pada kutipan berikut:

“Potongan rambut saya pendek. Kulit saya hitam. Wajah saya tidak cantik. Tubuh saya kurus kering tak menarik. Payudara saya rata. Namun saya tidak terlalu peduli dengan payudara. Tidak ada pentingnya bagi saya. Payudara tidak untuk menyusui tapi hanya untuk dinikmati lelaki, begitu kata Ayah. Saya tidak ingin dinikmati lelaki. Saya ingin menikmati lelaki, seperti ketika menyusu penis Ayah waktu bayi.” (Hlm. 36-37).

Bagi saya cerpen-cerpen di buku ini sangat mengagumkan. Para penulisnya yang mayoritas perempuan berani dan cerdik menceritakan bagimana posisi perempuan yang selalu dinihilkan, namun hadir begitu nyata dalam kisah-kisah yang mereka bawakan. Masih ada 29 cerpen lagi yang saya kira tidak kalah menarik dari tiga cerpen diatas.

Tokoh-tokoh dalam buku kumpulan cerpen ini bersiap untuk mengada dalam pikiran-pikiran kita, ketika kita selesai membacanya. Saya kira menyesal sekali jika tidak bisa mengarungi pengalaman-pengalaman tiap tokoh dalam kumpulan cerpen ini.

Triyo Handoko
Author: Triyo Handoko

Asisten Peneliti untuk riset layanan kesehatan seksual dan reproduksi ramah remaja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here