Bagaimana Milenial Merencanakan Keluarga dan Tantangan Nikah Muda

63

Zaman terus berubah, begitu pula norma yang berlaku. Pernikahan sebagai gerbang awal berkeluarga menjadi arena wacana tanding atas perubahan norma yang sedang terjadi. Ide dan gagsan dipertarungkan untuk mendapat simpati pada generasi selanjutnya. Kepada norma yang mana yang pantas dijadikan dasar menjalani kehidupan menjadi arena perdebatan yang kadang bertendensi moral.

Sehingga tidak heran ada kelompok yang serius dan masif mengajak khalayak muda untuk segera menikah. Sosial media menjadi alat utama mengkampanyekan gerakan nikah muda. Misalnya akun Instagram @gerakannikahmuda, sampai akhir tahun ini sudah berpengikut 430 ribu orang dengan rerata 12 postingan setiap hari dan meraup ribuan tombol like.

Tidak sedikit pula yang tertarik untuk nikah muda akibat gerakan ini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan dari tahun 2015 hingga 2018 jumlah pemuda pada usia 19-24 tahun 60-an persen dari 25,7 juta sudah menikah. Dari tahun 2015 jumlah pernikahan anak muda 59,87 persen, meningkat pada 2016  menjadi 60,25 persen, kemudian pada 2018 angkanya stagnan pada 60,34 persen.

Padahal pernikahan bukan hanya seperti yang dikampanyekan gerakan tersebut. Bukan hanya urusan menghindari zina dan dosa. Kualitas dari setengah hidup yang tersisa dimulai dari sana. Kualitas hidup yang layak menjadi hak setiap orang dan menjadi urusan pribadinya. Tidak berhak dicampuri orang lain dan tidak bisa dikurangi sedikitpun kualitasnya.

Mempercepat pernikahan bukannya tanpa masalah. Bahkan resiko bermasalahnya lebih besar. Ketidaksiapan menjadi resiko utama,  siap atau tidak harusnya dicermati sebelum menikah.

Nicholas Wolfinger, seorang profesor dari Universitas Utah, Amerika Serikat di bidang studi keluarga dan konsumsi dan sosiologi menganalisis data National Survey of Family Growth (NSFG). Hasil dari penelitiannya menunjukan risiko tingkat perceraian untuk pernikahan pada usia 20-24 tahun mencapai 20 persen. Sedangkan resiko perceriaan pada pernikahan usia di bawah 20 tahun yakni 32 persen.

Bukan hanya di negara dengan kultur liberal yang kuat saja yang memiliki resiko perceraian pada pernikahan usia muda. Indonesia dan Malaysia juga demikian pun dua negara ini memiliki kultur agamis yang kuat. Hasil penelitian Premchand Dommaraju seorang peneliti dari Nanyang Technological University dan Gavin Jones seorang peneliti dari  National University of Singapore juga mengatakan demikian.

Salah satu sampel yang diteliti adalah Kuala Lumpur. Dimana tingkat perceraian pada usia muda justru tinggi pada tahun pertama hingga tahun ketiga pernikahan, neraca rasionya 2 sampai 3,5. Secara keseluruhan untuk Malaysia meningkat dari 1,09 pada 2001 menjadi 1,5 pada 2006.

Pernikahan butuh kesiapan, apalagi pada era ini, ketika harga rumah luar biasa tinggi, biaya pendidikan tidak semurah dulu, dan ancaman perubahan iklim yang tidak bisa dianggap remeh. Anak menjadi elemen penting untuk merencanakan sebuah keluarga. Akan diasuh dengan pola dan fasilitas seperti apa.

Hal tersebut tentu tidak bisa disepelekan hanya dengan dalih menghindari dosa dan zina. Bahkan dosa besar apa yang akan didapat jika dengan nikah muda justru menelantarkan anak.

Milenial Adaptif dengan Perubahaan

Pew Research Center dalam penelitiannya menemukan bahwa fondasi ekonomi yang solid merupakan syarat utama ketika generasi milenial ingin masuk ke jenjang pernikahan. Soal finansial tidak menjadikan antagonisme dalam sebuah hubungan pada generasi milenial. Hal tersebut menurut data dari penelitian Boston Collage Center for Work and Family.

Watak konserfativ maskulin yang pada generasi sebelumnya menginginkan dominasi laki-laki dalam keluarga tidak diteruskan oleh laki-laki generasi milenial. Hal tersebut ditunjukan dari 51 persen ayah generasi milenial yang tidak bermasalah dengan menjadi bapak rumah tangga jika pasangan mereka bisa menghasilkan uang yang cukup.

Pembagian peran dalam keluarga menjadi dasar penting untuk merencanakan keluarga bagi milenial. Tidak melulu soal finansial, bagi generasi milenial keseimbangan antara kerja dan keluarga juga amat penting. Bahkan besaran gaji tidak menjadi prioritas yang mereka hadapi. Generasi milenial justru memprioritaskan kepastian pekerjaan termasuk kesempatan karir, hal tersebut dari anggapan 83 persen ayah generasi milenial. Barangkali hal tersebut karena corak kehidupan fleksibel yang membentuk mereka.

Pada belahan dunia lain, ketika di Indonesia gerakan nikah muda mendapat tempat, muncul fenomena gamophobia. Dimana banyak anak muda menilai pernikahan sebabagi sesuatu yang mengerikan, sehingga mereka menghindarinya. Fenomena ini banyak ditemui di China, Korea, dan Jepang.

Menurut hasil penelitian yang dilkukan China Daily dengan responden mayoritas pekerja kerah putih dan pegawai pemerintah dari kota-kota besar Cina termasuk Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Shenzhen. Ditemukan hasil bahwa 80 persen kalangan anak muda lajang kelahiran 80an sampai 90an memilih hidup sendiri dan takut menikah. Penelitian yang dilakukan China Daily tersebut dilakukan pada 2015.

Hasil penelitian di Negeri Tirai Bambu itu mengungkap bahwa gamophobia menjadi hal lazim di kalangan anak muda, dengan 90 persen responden mengatakan pernikahan hanya membuat stres dan merepotkan.

Dari penelitian tersebut juga ditemukan bahwa 60 persen lebih anak muda di China memilih menikah setelah usia 30. Para responden ini percaya pernikahan harus disiapkan dengan penuh pertimbangan bukan karena dorongan asmara semata.

Penting memang mempersiapkan pernikahan lantran hal tersebut gerbang pertama dalam membangun keluarga. Namun jika hanya ketakutan yang muncul tanpa keingintahuan untuk mempersiapkan, tentu juga menjadi permasalahan yang dilematis.

Apalagi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya hanya mitos belaka. Seperti ketakutan yang jamak dialmi perempuan yang pernah menalami kehamilan tidak direncanakan. Ketakutan-ketakutan tersebut timbul lantaran sedikit sekali informasi yang diperolehnya secara komperhensip. Sehingga jangan ragu untuk konseling soal apapun untuk merencakanan pernikahan juga berkeluarga dengan lembaga yang tepat karena merencanakan keluarga adalah hak.

Triyo Handoko
Author: Triyo Handoko

Asisten Peneliti untuk riset layanan kesehatan seksual dan reproduksi ramah remaja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here