Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja yang Jarang Dipahami

20

World Health Organization (WHO) sebuah lembaga yang menangani isu kesehatan dunia dibawa naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), mengidentifikasi remaja sebagai semua individu yang berumur 15-24 tahun. Permasalahannya, data WHO (2014) menunjukan 16 juta remaja melahirkan setiap tahunnya. Angka tersebut setara dengan 11% dari total jumlah kelahiran di dunia. Kemudian, sebanyak 95% dari total remaja yang melahirkan tersebut berasal dari negara miskin dan negara berkembang.

Remaja perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan. Pertama, hak-hak dasar mereka pada banyak kasus yang terjadi terabaikan. Hak untuk mengakses pendidikan adalah contohnya. Kebanyakan sekolah akan mengeluarkan remaja yang ketahuan hamil. Kedua, mereka mananggung beban ganda akibat hal tersebut. Mereka dengan kemampuan seadanya, psikis maupun ekonomi belum stabil. Namun harus menjadi ibu bagi anaknya, merawat dan memenuhi kebutuhan ananknya.

Apa yang salah dengan fenomena tersebut? Salah satunya adalah akses terhadap informasi dan layanan untuk Hak Kesehatan Seksual dan Reprodukai (HKSR) minim sekali. Padahal HKSR adalah hak dasar yang harus terpenuhi untuk setiap individu.

Menurut data daari Anakku (2013)—sebuah lembaga yang fokus pada permasalahan Anak—menunjukan kematian janin pada ibu usia 15-19 tahun 50% lebih tinggi dibandingkan ibu usia 20-29 tahun. Kematian ibu dikarenakan persalinan juga lebih tinggi 50-100% jika ibu berusia 15-19 tahun. Selain itu, remaja hamil juga rentan mengalami komplikasi seperti preeklampsia atau tekanan darah tinggi pada kehamilan, infeksi dan pendarahan pada ibu.

Permasalahan seperti itu akan teratasi jika ada akses terhadap informasi dan layanan HKSR. Permahasalahnnya, banyak remaja tidak mendapat pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual dengan baik. Masa ketika seseorang menginjak remaja adalah masa ketika secara biologis mereka sudah mampu. Hasrat seksual yang sudah kuat, namun memahami organ reproduksi saja belum sepenuhnya tepat.

Sehingga tidak heran angka-angka diatas cukup tinggi. Angka-angka yang mencemaskan, yang tidak hanya sebatas angka statistik. Namun juga menyangkut nyawa orang banyak dan kualitas hidup banyak orang. Membangun kesadaran akan HKSR bagi remaja penting untuk menyelsaikan masalah tersebut. Maka memberikan informasi dasar HKSR menjadi satu hal untuk membangun kesadaran tersebut.

Berikut adalah dasar HKSR yang perlu diketahui oleh remaja, dimanapun itu.
Pertama, Hak untuk keleluasaan pribadi. Hak ini menjamin kalian untuk tidak diintervensi dengan sewenang-wenang terhadap privasi, keluarga, tempat tinggal, surat meyurat yang menyangkut privasi soal otonomi seksualitas dalam diri kita masing-masing. Termasuk didalamnya orientasi seksual, dimana dan kapan melakukan aktivitas seksual, atau pasangan sdalam aktivitas seksual.

Selain itu juga berkaitan dengan pelayanan dan perawatan kesehatan seksualnya dan cacatan medis menganai hal tersebut. Sehingga apapun yang menyangkut privasi seksual yang kita miliki dijamin perlindungannya. Apabila privasi tersebut tidak dijaga—oleh siapapun tanpa seijin kita, termasuk orang lain, negara, atau pasangan sendiri—maka kalian berhak melaporkan hal tersebut ke institusi terkait. Untuk ditangani dan kalian juga berhak mendapat perlindungan atas pelaporan tersebut.

Kedua, Hak untuk hidup, kebebasan, keamanan seseorang dan kebertubuhan. Hak ini menjamin kalin untuk terus hidup, khususnya berkaitan dengan seksualitas dan kesehatan reproduksi yang mengancam hidup kalian. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) pada banyak kasus menjadi hambatan bagi perempuan untuk melanjutkan hidup. Hal ini karena 50% kehamilan yang dialami remaja berisiko lebih tinggi daripada kehamilan perempuan dewasa.

Bagaimanapun juga setiapa individu berhak untuk hidup dan bebas dari resiko kematian, termasuk remaja perempuan. Sehingga aborsi jika menjadi pilihan perempuan KTD patut didukung. Lantaran hal tersebut memang menjadi haknya. Selain itu, apapun yang menjadi ancaman seseorang untuk tetap bertahan hidup—misalnya penyakit menular seksual—kalian berhak untuk mengakses layanan kesehatan untuk bebas dari ancaman tersebut.

Ketiga, Hak kesetaraan, perlindungan yang sama dimuka hukum dan bebas dari semua bentuk diskriminasi yang berbasis seks, seksualitas dan jender. Pada dasarnya semua manusia dilahirkan bebas dan sejajar dalam harga diri apapun suku, agama, ras, jenis kelamin dan orientasi seksualnya. Sehingga setiap manusia memiliki hak serta harus menikmati kesetaraan perlindungan hukum dari diskriminasi yang berbasis seksualitas dan jender.

Tidak diperkenakan siapapun seseorang, sekumpulan orang, atau institusi apapun bentuknya melakukan diskriminasi terhadap orang lain. Sehingga apapun orientasi seksualitasnya, kalian berhak diperlakukan setara. Termasuk ketika mengakses layanan kesehatan seksual dan reproduksi.

Keempat, Hak untuk memilih ya atau tidak untuk menikah, mencari dan merencanakan berkeluarga, untuk memutuskan ya atau tidak soal bagaimana dan kapan mempunyai anak. Jadi kalau kalian diminta lekas menikah atau mempunyai anak, hal ini karena banyak orang tidak menyadari HKSR.

Hal yang perlu diapahami dan penting adalah merencanakan berkeluarga, termasuk didalamnya akan membentuk keluarga seperti apa, kapan dan berapa memiliki anak, dan mendidik anak seperti apa. Hal ini penting karena menyangkut banyak hal siginifikan bagi kehidupan seseorang. Lantaran menyangkut psikis dan fisik seseorang. Sehingga tidak mengherankan menjadi hak dasar seseorang.

Kelima, Hak untuk sehat dan manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan. Hak ini menjadikan semua orang memiliki hak untuk menikmati pencapaian standar kesehatan fisik dan mental yang paling tinggi dari yang tersedia. Apapun identitas dasar dan keunikan yang dimilikinya. Dimana meliputi akses perawatan kesehatan seksual untuk pencegahan, diagnosa dan pemeriksaan yang berkaitan dengan permasalahan dan ketidakfungsian seksual.

Implikasinya dari hak ini adalah bantuan kesehatan harus sensitif terhadap kebutuhan khusus bagi individu dan komunitas yang termarjinalkan. Tidak diperkanankan praktik kesehatan yang diskriminasi, lantaran semua orang berhak atas layanan kesehatan terbaik.

Triyo Handoko
Author: Triyo Handoko

Asisten Peneliti untuk riset layanan kesehatan seksual dan reproduksi ramah remaja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here