Rumah Tak Menjadi Jaminan Lokasi Aman Untuk Perempuan

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa perempuan hingga kini masih tinggi di Indonesia. Berdasarkan catatan tahunan 2016 yang dikeluarkan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), sampai Maret 2016, tercatat bentuk kekerasan terhadap istri (KTI) sebesar 60%. Jumat, 22 Juli 2016. “Tingginya presentase kasus kekerasan terhadap istri menunjukan bahwa rumah bukan tempat yang…

Prihatin Intoleran Tinggi Di Yogyakarta, Seniman Protes Lewat Karya Seni

Diawal tahun ini, sedikitnya terjadi empat kasus intoleran di Yogyakarta yang dilakukan dengan alasan agama, kelompok fundamentalis lokal, dan situasi politik di Jogja. Padahal Yogyakarta selama ini terkenal dengan nama City of Tolerance, namun ternyata kasus intoleran justru semakin sering terjadi. Selasa, 20 Juli 2016.

Soal Pembatalan Perda, KPS2K Berikan Catatan Kemendagri

Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan (KPS2K) memberikan catatan terkait keputusan Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) yang telah membatalkan 3.143 Peraturan Daerah. Direktur KPS2K, Iva Hasanah mengatakan, catatan diberikan terhadap Kementrian Dalam Negeri, karena tidak mencabut atau membatalkan seluruh Perda yang intoleransi.

Soal Kekerasan Seksual, Guru Juga Harus Inovasi Cara Mengajar

Untuk meminimalkan maraknya kekerasan seksual yang melibatkan anak baik sebagai korban dan pelaku, pengamat pendidikan Isa Anshori mengatakan guru harus mulai melakukan inovasi dalam mengajar. Hal ini dikarenakan pendidikan di Indonesia yang ada saat ini tidak bisa merespon perilaku dan perkembangan siswa.

You are What You Do, Not What You Wear

“Cewek yang suka pake rok mini itu pada dasarnya emang minta diperkosa!” “Dasar perempuan nakal, pantes aja diperkosa, malam-malam jalan sendirian, sih!” Pernyataan di atas tentu sudah sering kita dengar, mulai  dari obrolan di warung kopi pinggir jalan, hingga statement yang keluar dari mulut para pejabat saat mengomentarai kasus kekerasan seksual. Wajar saja pernyataan semacam…

Lukman Hakim “Kasus YY Harus Di Sikapi Secara Serius!”

Kasus meninggalnya YY, siswi SMP yang dibunuh dan di perkosa di Padang Ulak Tanding, kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, kini ramai dibicarakan. Tidak hanya di Jakarta dan sejumlah daerah di Indonesia, kabar meninggalnya perempuan 14 tahun tersebut juga ramai diberitakan di media-media asing di Australia, Amerika, Inggris, India dan Kanada.

Perda Diskriminasi LGB Justru Langgengkan Kekerasan Pada Perempuan

Lesbian-Biseksual-Transgender atau yang biasa disingkat LBT masih kerap kali menerima tindakan diskriminasi, hal ini tentu saja melanggar hak asasi manusia. Padahal sudah jelas dalam Undang-Undang HAM, LBT tidak boleh didiskriminasi baik oleh masyarakat atau Negara, termasuk melalui Undang-Undang dan Peraturan Daerah (Perda).

Kasus YY Bukti Minimnya Perhatian Negara Pada Kekerasan Seksual

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan menyesalkan adanya kasus pemerkosaan yang berujung pembunuhan terhadap YY (14) siswi SMP di Bengkulu. Kasus YY merepresentasikan minimnya perhatian Negara terhadap isu besar tentang kejahatan seksual. Hal ini sangat meresahkan dan memprihatinkan sebab siapapun berpotensi menjadi korban kekerasan maupun kejahatan seksual di Indonesia.

Hukuman Pelaku Kekerasan Seksual Belum Maksimal

Trend kekerasan seksual terhadap anak di Jawa Timur dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pelakunya pun sebagian besar adalah orang dekat korban seperti anggota keluarga, pacar, tetangga. Beberapa faktor yang menjadi penyebab terus meningkatnya kekerasan seksual pada anak adalah perkembangan teknologi dan penegakan hukum yang masih lemah.