“If your body could speak, would she forgive you?”

Trigger Warning: Self Harm, Eating Disorder

Kalimat di atas merupakan penggalan dari puisi berjudul More Interesting Than Suffering karya Blythe Baird. Ia adalah salah satu penulis favorit saya yang sering berbicara tentang gangguan makan (eating disorder) dan perjalanannya pulih dari gangguan tersebut dalam puisi-puisinya. Ia bisa menyuarakan hal yang saya rasakan selama ini, namun, tidak punya kosa kata untuk mengucapkannya.

Blythe Baird, sejak kecil, bergelut dengan citra tubuh negatif yang membuatnya mengalami hubungan yang buruk dengan makanan. Hubungan yang buruk dengan makanan memperburuk kondisi kesehatan fisik dan mental Blythe Baird. 

Secara sederhana, citra tubuh negatif adalah kondisi seseorang yang terganggu secara berlebihan akan penampilannya. Kondisi ini bukan hanya sekadar perasaan tidak pede, saja. Namun, dapat mendistorsi cara seseorang melihat tubuhnya sendiri.

Dia jadi melakukan hal-hal jahat ke tubuhnya sebagai pelampiasan. Kutipan di atas membantu proses saya berdamai dengan tubuh sendiri. Sama seperti Blythe Baird, saya bergelut dengan citra tubuh negatif sejak kecil. Tepatnya dimulai saat duduk di bangku SD.

Mama sering mengajak saya untuk menemaninya ke klinik kecantikan. Saya akan meringkuk di ruang tunggu klinik yang dingin sambil membolak-balik halaman majalah berisi perempuan-perempuan langsing, tinggi, berkulit putih, wajah tirus, dan berambut panjang. 

Wajah mama selalu bengkak dan memar usai keluar dari ruang klinik. Namun, saya tidak pernah bertanya apa yang mama lakukan. Sampai suatu ketika saya boleh masuk ke ruang klinik dan menyaksikan punggung mama ditusuk banyak jarum.

Setelahnya, saya bertanya ke mama kenapa tubuhnya ditusuk jarum. Mama menjawab, “Supaya kurus.”

Saya kembali bertanya, “Memangnya kenapa harus kurus?” 

“Supaya cantik.”

Saya akhirnya jadi tahu nama-nama perawatan yang mama lakukan di klinik kecantikan: akupuntur, suntik botox, filler, dan tarik benang. Saya juga ingat dulu mama membeli buku diet yang beliau baca dengan serius sampai ditandai menggunakan stabilo. Saat arisan, saya menguping mama bicara ke teman-temannya soal buku tersebut. Mama memuji tentang ajaibnya isi buku itu, bahkan mama menghadiahkan buku itu untuk teman-temannya. 

Saya juga ingat mama pernah berhari-hari hanya mengonsumsi jus saja, tanpa makan apa pun. Saat itu saya masih berusia 10 tahun, dan tertanam dalam otak saya bahwa perempuan harus cantik dan menjadi cantik butuh usaha.

Saat beranjak remaja, dengan tinggi badan kurang lebih 160 cm dan berat badan yang bertahun-tahun tetap berada di angka 45 kg, saya tergolong kurus. 

Setiap berat saya naik sedikit, mama sadar dan setiap pagi mencekoki saya dengan jamu dan teh daun jati cina. Katanya berkhasiat untuk menurunkan berat badan. Saya jadi cemas dengan berat badan saya. Bahkan ketika berat badan tergolong kurus, saya merasa gemuk.

Setelah lulus SMA, saya kuliah di luar kota. Sejak tahun pertama kuliah sampai tahun ketiga, kondisi kesehatan mental saya memburuk. Saya jadi makan lebih banyak untuk memperbaiki suasana hati. Puncaknya berat badan saya naik jadi 58 kg pada tahun ketiga kuliah.

Saya tahu bahwa saya gemuk dan saya jadi merasa jelek. Perasaan jelek ini menjadi serius ketika saya menjadi jijik dengan tubuh sendiri. Saya tidak mau bercermin dan bertemu dengan orang-orang. Rasanya tidak ada orang yang pantas melihat rupa yang jelek ini. 

Hal ini diperparah ketika mama dan keluarga besar mengomentari perubahan tubuh saya saat Lebaran. Mama berkali-kali mengatakan, “Kamu lebih cantik kalau kurusan.”

Saya meyakini mama membenci tubuh saya lebih daripada saya membenci tubuh saya sendiri. 

Setelah itu, saya tidak lagi makan untuk memperbaiki suasana hati karena lebih takut menjadi semakin gemuk. Saya merasa jijik dan bersalah setelah makan. Akhirnya, saya sering menenggak obat pencahar usai makan atau memaksa untuk muntah beberapa jam setelah makan. 

Jujur saja, saya menyimpan amarah pada mama karena membuat saya melakukan hal-hal buruk untuk menjadi cantik. Namun, saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkankan beliau. Usai mama berkali-kali mengatakan kalau saya lebih cantik jika kurusan, beliau bercerita ingin melakukan sedot lemak jika punya uang.

Mungkin, mama tidak pernah berpikir bahwa selama ini saya memperhatikan apa yang beliau ucapkan dan lakukan pada tubuhnya sendiri. Mama tidak tahu, diam-diam, saya membuat catatan di dalam kepala. 

Tahun ketiga kuliah merupakan titik terendah. Saya sering berpikir untuk mengakhiri hidup dan melukai diri sendiri dengan menyayat lengan. Akhirnya, saya memutuskan untuk ke psikolog. 

Saat berada pada titik terendah itu, berat badan saya turun drastis. Saya tidak olahraga atau mengatur pola makan. Saya hanya makan sehari sekali. Saya juga semakin banyak merokok. Saat itu, saya berkata kepada diri sendiri, “Nggak apa-apa banyak merokok soalnya jadi males makan.”

Berkat berat badan yang turun, saya mendapatkan banyak pujian. Mama juga mengatakan saya lebih cantik. Teman-teman memuji saya terlihat lebih segar dan sehat karena kurusan. Padahal, yang saya lakukan tidak sehat sama sekali.

Bersyukurnya, saya bisa melewati titik terendah itu dan perlahan-lahan bangkit. Lalu, saya mendapat kesempatan magang di sebuah media online gaya hidup sebagai social media officer. Saya jadi belajar banyak tentang fitness karena harus membantu membuat konten dan mengunggahnya di media sosial.

Oleh sebab itu, saya jadi tergerak untuk menerapkan pola hidup sehat. Saya mulai berolahraga, makan sayur, dan meditasi. Ternyata, melakukan kebiasaan-kebiasaan sehat membuat kondisi kesehatan mental saya membaik. 

Sayangnya, ada satu hal yang mengganjal saat saya membantu membuat konten fitness dan menulis caption-nya. Contohnya tips diet ala (nama selebriti perempuan), saya akan menulis caption-nya seperti ini, “Siapa sih yang nggak pengin punya pinggang kecil dan perut rata kayak (nama selebriti perempuan)? Nah, teman-teman bisa ikutin tips di atas!”

Saya mulai berpikir, kenapa olahraga dan makan makanan bergizi harus didasari keinginan punya tubuh seperti selebriti yang sesuai standar kecantikan? Memangnya sudah pasti yang dilakukan selebriti tersebut sehat? Mengapa perempuan diajarkan olahraga dan makan bergizi untuk meraih standar kecantikan bukan menjadi sehat?

Coba perhatikan betapa seringnya kita melihat judul artikel atau video YouTube seperti, “Mau Paha Ramping dan Bokong Semok? Mari Lakukan Gerakan Ini!”, “Rahasia Diet Selebriti Korea”, “Cara Memiliki Perut Rata dalam 2 Minggu”, dan sebagainya.

Saya perhatikan sejak dulu, industri fitness dipasarkan dengan membawa pesan, “Kamu itu nggak bahagia karena badanmu nggak sesuai standar kecantikan. Solusinya, ya ikut kami dan ubah badanmu. Nanti kamu kamu bakal lebih bahagia.”

Bukankah ketika ditekankan pada cara meraih standar kecantikan, makna fitness bakal melenceng, ya?

Memang tidak mudah mengubah pola pikir yang sudah dilanggengkan sejak lama. Saat mulai menerapkan gaya hidup sehat, saya sempat terobsesi dengan jumlah kalori makanan. Bahkan saya merasa sangat bersalah ketika tidak konsisten mengikuti jadwal olahraga dan menjaga pola makan.

Saya juga sempat mengukur keberhasilan saya pada ukuran baju dan angka timbangan. Saya pikir sudah melakukan hal yang benar karena sudah berhenti menyayat lengan ketika berpikir untuk mengakhiri hidup. Saya menggunakan olahraga sebagai distraksi ketika pikiran-pikiran negatif mulai muncul. 

Suatu hari, saya mengalami serangan panik (panic attack) yaitu, munculnya rasa gelisah berlebihan secara tiba-tiba. Serangan panik itu terjadi pada pukul 1 dini hari. Saya gemetar, jantung berdebar lebih cepat, napas terasa sesak, dan muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Saya yang sudah lama berhenti menyayat lengan, pada malam itu memiliki keinginan kuat untuk melakukannya kembali. 

Sebagai gantinya, saya melakukan HIIT (High Intensity Interval Training) yaitu, latihan kardio dengan intensitas tinggi. Saat melakukan HIIT, paru-paru akan memompa oksigen lebih besar sehingga peredaran darah ke jantung akan lebih cepat. HIIT merupakan olahraga yang dilakukan dalam durasi cepat, tapi gerakannya intens sehingga dapat membakar kalori lebih efektif. 

Saya tidak jadi menyayat lengan saya pada malam itu. Namun dampaknya saya jadi tidak bisa tidur sama sekali. Akhirnya, saya pun tersadar bahwa saya masih belum benar-benar melakukan hal yang baik ke diri sendiri. 

Saya akhirnya sadar bahwa melukai tubuh sendiri sendiri tidak selalu harus dengan cara menyayat bagian-bagian tubuh. Namun, perilaku cemas berlebihan pada penampilan sampai tidak mendengarkan tubuh sendiri juga bentuk lain dari melukai tubuh sendiri. 

Kalimat “If your body could speak, would she forgive you?”, membuat saya memikirkan ulang hubungan buruk antara saya dan tubuh sendiri. 

Saya mendapat ide untuk mengumpamakan tubuh sebagai makhluk hidup yang terpisah dari diri sendiri. Ia bisa bicara dan merasakan. Meskipun terdengar aneh, pikiran ini membuat saya lebih mudah untuk berlaku lembut dengan tubuh sendiri.

Saya jadi terus-menerus berpikir, jika tubuh saya bisa bicara, apa yang akan ia katakan? Bisakah ia memaafkan saya? Apa salah tubuh saya selama ini mendapat perlakuan jahat? 

Langkah kedua yang saya lakukan adalah berhenti mengasosiasikan bentuk tubuh dengan moral. Selama ini saya tumbuh dengan pemikiran bahwa kurus adalah baik dan gemuk adalah buruk. Pemikiran tersebut membuat saya berusaha keras untuk kurus bahkan dengan cara-cara yang tidak sehat. 

Pemikiran baru tersebut tidak hanya saya aplikasikan ke diri sendiri. Saya mencoba berhenti memuji orang lain yang tubuhnya mengurus. Saya tidak benar-benar tahu apa yang orang lakukan pada tubuhnya. Ketika orang-orang memuji saya dulu karena berat badan saya turun drastis, mereka bilang saya terlihat lebih cantik dan sehat. Jika saja bisa memutar balik waktu, saya akan berteriak ke mereka kalau saat itu saya tidak baik-baik saja. Saya sakit. 

Langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah berhenti mengasosiasikan makanan dengan moral. Sama seperti bentuk tubuh, makanan seharusnya tidak memiliki nilai baik dan buruk. Lho, bagaimana kalau ngomongin kesehatan? Saya bukan tenaga kesehatan, jadi tidak bisa dijadikan sumber akurat. Namun, sejauh yang saya pahami, semua makanan boleh dimakan dengan moderasi.

Konsep “clean eating” atau makan bersih adalah pemikiran klasisme. Setiap orang sudah seharusnya mendapat akses ke makanan yang bergizi seimbang. Namun, pada kenyataannya clean eating hanya bisa dilakukan orang-orang yang memiliki uang lebih. Istilah ini juga menyiratkan bahwa di luar konsep tersebut makanan yang lain adalah kotor. Hadeh, ini ngomongin makanan atau cucian baju, sih? 

Langkah terakhir adalah melakukan olahraga untuk merayakan betapa hebatnya tubuh saya, bukan dengan tujuan untuk kurus. Dulu aktivitas olahraga adalah hal yang menyebalkan karena saya bertujuan untuk menurunkan berat badan. Pokoknya olahraga apa pun yang penting keringetan ngucur dan bikin capek.

Setelah mencoba berbagai jenis olahraga dan menghilangkan pikiran untuk menguruskan berat badan, ternyata saya jadi menikmati olahraga. Oh ya, sekarang saya bisa angkat galon sendiri hahaha. 

Proses pemulihan tidak mudah dan linear. Ya, bayangkan saja tumbuh besar memiliki ide membenci tubuh sendiri. Kita bertahun-tahun dicekoki ide tersebut, tentu saja proses pulihnya tidak secepat masak Indomie. Jujur saja, saya masih belum sepenuhnya menyayangi tubuh sendiri. Namun, perlahan-lahan saya mencoba lebih lembut dengan tubuh sendiri. Tubuh ini yang membawa saya hidup dan ia tidak berhak menerima perlakuan kasar. Apalagi dari diri saya sendiri.

Alya Faradisa Cholid
Author: Alya Faradisa Cholid

Alya Faradisa Cholid adalah mahasiswi ISI Yogyakarta jurusan Film dan Televisi. Selain menulis, dia juga sedang menggarap film dokumenter pendek.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here