Mengabadikan Duka Junko Furuta

198
Kisah Junko Furuta

Stalin pernah mengatakan, “Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik.” Kutipan ini tak lekang oleh waktu: bertahan puluhan tahun berkat relevansinya dengan beragam peristiwa termasuk salah satunya kematian Junko Furuta.

Tentu saja, kematian Junko Furuta adalah tragedi.

Furuta diculik selama 44 hari dan selama itu juga, ia diperkosa bergiliran oleh empat orang pemuda. Ia disiksa sampai mati. Hari-hari setelah penyekapan adalah mimpi buruk baginya.

Berdasarkan catatan dari Crime Library, selama hari-hari penuh kekejaman itu, Furuta disundut dengan rokok, badannya ditimpa dengan timbangan, kemaluannya dimasuki bola lampu panas. Para pelaku bahkan meledakkan petasan di dalam telinga, mulut, dan anusnya. Mereka membuat Furuta kelaparan dengan hanya memberinya kecoa dan memaksanya minum air kencing sendiri. Badannya digantung di langit-langit dan dia diperlakukan seperti samsak: ditinju hingga organ tubuhnya rusak dan mulutnya memuntahkan darah. Yang perlu diingat: itu semua dilakukan sambil mereka bergantian memperkosa Furuta berulang-ulang. Laporan dari persidangan kasus ini mencatat Furuta diperkosa sebanyak 400 kali.

Junko Furuta berusia 17 tahun saat tragedi itu terjadi. Ia salah satu siswa SMA di Prefektur Saitama di Misato, tidak jauh dari jantung kota Tokyo. Furuta nyaris sama seperti siswa lain: muda dan energik, kecuali satu: ia ditaksir oleh seseorang bernama Miyano Hiroshi-pria muda yang dikenal bandel dan punya jaringan dengan Yakuza. Mimpi buruk Furuta dimulai sejak ia menolak bocah ini. Seperti dikutip dari Cultura Colectiva, Furuta diculik oleh Miyano dan tiga kawannya: Minato Nobuharu, Watanabe Yasushi, dan Jo Kamisaku. Ia disekap di rumah Kamisaku dan sempat berusaha melarikan diri meski gagal.

Karena hal ini, kakinya dibakar tetapi Furuta masih bisa bertahan. Beberapa hari kemudian, kematiannya tiba setelah ia dipukul dengan bambu dan tongkat golf, dilempari barbel hingga muntah darah dan akhirnya kejang-kejang. Keempat pelaku sempat mengira bahwa kejang-kejang yang dialami Furuta dibuat-buat sehingga mereka membakarnya lagi. Tetapi, kali ini Furuta tidak mampu bertahan, ia meninggal pada tanggal 5 Januari 1989: tepat pada hari ke-44 ia disekap. Tubuhnya dipendam dalam adonan semen.

Tragedi yang Menimpa Junko Furuta adalah Femisida

Tragedi yang menimpa Junko Furuta tergolong ke dalam femisida. Ia diculik, diperkosa, dianiaya, dan dibunuh karena status gendernya sebagai perempuan. World Health Organization (WHO) mendefinisikan femisida sebagai tindakan kekerasan baik secara verbal atau non-verbal yang meliputi pelecehan seksual, penyiksaan secara fisik, pemerkosaan, dan yang paling puncak adalah pembunuhan-semata hanya karena korban adalah seorang perempuan. Dalam sistem masyarakat patriarki, perempuan dipandang sebagai sang liyan: gender yang harus selalu berada di bawah kuasa laki-laki.

Pandangan ini mengakibatkan posisi perempuan menjadi lemah dan kerap disepelekan. Pelaku seolah-olah memperoleh pembenaran setiap kali melakukan kekerasan. Ini melahirkan logika di mana jika ada perempuan yang menunjukkan kekuasaan maka ia harus diberi pelajaran. Tindakan Furuta menolak Miyano, seorang pria muda yang punya koneksi kuat dengan jaringan Yakuza tentu meruntuhkan ego maskulinitas bocah lelaki itu. Apa yang kemudian menimpa Furuta setelah itu, seperti dikutip dari Tirto adalah penyiksaan yang tingkat kekejamannya melampaui nalar kemanusiaan-buah dari runtuhnya ego yang dibesarkan dalam masyarakat patriarki.

Junko Furuta yang Abadi

Kasus ini telah berumur 30 tahun tetapi sampai saat ini, tidak sulit mencari kasus yang sama seperti yang menimpa Junko Furuta. Femisida terjadi di seluruh dunia. Argentina,  Republik El Salvador, India, Honduras, dan Meksiko adalah lima negara dengan tingkat kejahatan femisida tertinggi di dunia seperti dikutip dari Elite Daily. Hukum yang berlaku di negara tersebut memang seolah melindungi perempuan. Tetapi stigma, lingkungan yang misoginis, seksisme, dan segala bentuk turunan dari sistem patriarki membuat hukum sulit ditembus dan keadilan bagi para korban seperti cuma omong kosong.

Para pelaku kejahatan terhadap Junko Furuta misalnya, hanya dikenai hukuman paling berat 20 tahun sementara yang paling ringan 7 tahun. Itu berarti saat ini mereka telah bebas. Minato, salah satu pelaku bahkan kembali melakukan tindakan kekerasan dengan menyayat leher seorang karyawan di kota Kawaguchi pada pertengahan Agustus tahun 2018 seperti dikutip dari Tirto.

Kematian Junko Furuta tidak boleh sia-sia. Ia patut diperingati sebagai usaha untuk melawan kejahatan terhadap perempuan, meskipun barangkali itu bentuk dari sekecil-kecilnya perlawanan. Sutradara Hiromu Nakamura mengabadikan kisah tragis Furuta dalam film berjudul Concrete yang rilis pada tahun 2004. Sementara dari negara sendiri, Danilla Riyadi membuat lagu dengan judul Junko Furuta.

Days of a sudden doll who slept with pains
The last powerless crawled in a bloody chains

How could you build revenge while you calmed you heart?
How could you woke you hate while death is the new bed?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here