Pendidikan kesehatan reproduksi cegah hubungan seks tak aman

Pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi merupakan dua hal penting yang saling berkaitan untuk mencegah terjadinya hubungan seksual tidak aman dikalangan remaja. Selama ini, pendidikan seks masih dianggap tabu sehingga remaja tidak mengetahui fungsi-fungsi organ tubuh dan siklusnya.

“Daripada mencurigai dan menghakimi anak-anak muda terhadap tindakan seks tidak aman, lebih baik memberikan pendidikan kepada mereka. Pendidikan dalam konteks ini adalah seksualitas dan kesehatan reproduksi karena kedua hal tersebut saling berkaitan,” kata Wakil Ketua Pelaksana Harian Institute Kapal Perempuan, Budhis Utami, Rabu (2/10).

Pernyataan Budhis Utami tersebut menanggapi statement Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang menyarankan agar kamar di asrama mahasiswa tak berpintu untuk mengatasi hubungan seksual tidak aman di kalangan remaja.

Menurut Budhis, saran Mensos ini bukan solusi yang tepat untuk menghindari hubungan seksual. Justru, hal tersebut akan menimbulkan masalah baru. Misalnya, akan ada orang yang memiliki niat jahat masuk ke asrama sehingga akan menciptakan kondisi yang tidak aman, dan tidak menghargai privasi anak-anak muda.

Sementara itu, Budhis juga menambahkan saat ini sebenarnya sudah banyak remaja perempuan yang mengetahui tentang tubuh dan fungsi organ reproduksinya, beserta konsekuensi yang harus ditanggung jika melakukan hubungan seksual tidak aman.  “Membangun perspektif gender juga harus diperkuat pada anak-anak muda, khususnya perempuan supaya memahami bahwa mereka berhak atas tubuhnya dan tidak bisa dipaksa orang lain jika tidak menghendakinya.”

“Untuk itu, sebaiknya Menteri Sosial punya program penyuluhan/sosialisasi atau pendidikan tentang kesehatan reproduksi pada remaja dan mahasiswa. Misalnya bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan KPPA, bukan justru membuat ide-ide yang membahayakan keamanan mahasiswa,” kata Budhis.

Sebelumnya, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyarankan agar kamar asrama mahasiswa tak diberi pintu. “Saya merekomendasikan seluruh kamar mahasiswa tidak boleh ada pintunya,” katanya.

Khofifah mengaku mendapatkan ide tersebut dari salah satu universitas yang pernah dia kunjungi. Menurutnya, cara tersebut dapat menjadi upaya preventif perilaku seks oleh remaja di asrama mahasiswa. “Supaya ini dapat dipantau sehingga perilaku seks di kalangan remaja dapat diminimalisasi,” katanya.

Penulis : Nina Suartika

Editor : Wita Ayodhyaputri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *