Tentang Otoritas Tubuh

Otoritas Tubuh Otoritas Tubuh Otoritas Tubuh Otoritas Tubuh

Empat pertanyaan di atas sebenarnya, mungkin salah satunya, atau bahkan keempat-empatnya, mungkin pernah melintas di kepala kalian. Terutama jika kalian seorang perempuan, masih belum menikah, dan memiliki penampilan fisik yang tidak bisa dibilang tua.

Sebenarnya, perlakuan serta tatapan-tatapan yang tidak menyenangkan tersebut bisa menimpa siapa saja. Seorang laki-laki dewasa, misalnya, tidak jarang yang masih merasa risih saat ingin membeli kondom, baik di apotik maupun di minimarket. Tidak jarang, laki-laki tersebut akan memilih waktu di mana tidak banyak pengunjung lain untuk membeli alat kontrasepsi yang satu ini. Sudah seperti itu pun belum tentu laki-laki tersebut merasa nyaman saat harus membayar di kasir. Namun, pada kenyataannya, perempuan muda, terutama yang belum menikah, adalah kelompok yang paling sering mendapatkan perlakuan yang diskriminatif ini.

Di negara ini, pembicaraan mengenai tubuh memang kerap dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Jangankan soal kondom maupun pap smear. Bahkan yang sesederhana pakaian pun sering membuat gundah. Tidak jarang seorang perempuan muda harus merenung lama di depan lemari pakaiannya, mencoba memilih baju yang kiranya tidak mengundang pandangan mesum maupun godaan berbau seksual lainnya. Sementara masyarakat kita memandang laki-laki yang bertelanjang dada sebagai tindakan maskulin yang menggiurkan, perempuan justru akan dipandang baik jika berhasil menutup tubuhnya. Semakin tertutup semakin baik, tapi jangan terlalu tertutup karena kita membutuhkan tubuh perempuan untuk diobjektifikasi, baik secara seksual maupun…, yah, seksual. Repot memang menjadi perempuan.

Thomas Hobbes memang pernah berpendapat, dengan jargon homo homini lupus-nya yang sangat terkenal, bahwa manusia bukan hanya merupakan makhluk individual, tetapi juga makhluk sosial. Dalam hal ini, apa yang baik dan apa yang buruk pun dinilai dengan kaca mata sosial. Perempuan yang baik adalah perempuan yang menutup tubuhnya, perempuan yang baik adalah perempuan yang melakukan tes pap smear setelah dua tahun menikah, perempuan yang baik adalah perempuan yang tidak terang-terangan membeli pembalut, perempuan yang baik adalah perempuan yang tidak membeli kondom, dan terutama, perempuan yang baik adalah perempuan yang memenuhi kodratnya sebagai perempuan; menikah, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, dan memiliki anak.

Perkara perempuan tersebut tidak nyaman sepanjang hari mengenakan baju berlengan panjang dan rok sepuluh centimeter di bawah lutut, tidak ada urusannya. Perkara perempuan tersebut merasa dia perlu mengetahui kondisi tubuhnya dengan melakukan tes pap smear, bukan masalah besar. Perkara perempuan tersebut harus membeli pembalut karena menstruasinya datang tiba-tiba, tidak mau tahu. Perkara perempuan tersebut memiliki rencana karir dan pendidikan hingga menolak untuk untuk membangun keluarga dalam waktu dekat, pokoknya mau tidak mau harus.

Di sini otoritas tubuh kemudian mengambil peranan. Kuasa di mana setiap orang paham atas tubuhnya dan memiliki otoritas atas tubuhnya sehingga setiap orang mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas tubuhnya. Setiap orang memiliki pilihan, untuk mengenakan baju yang diinginkan, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan apapun, untuk merencanakan masa depannya, untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas tubuhnya.

Nah, apakah teman-teman punya pengalaman serupa? Ingin melakukan sesuatu dengan tubuh dan hidup teman-teman sendiri, tetapi tidak bisa karena otoritas tubuh teman-teman dihalang-halangi? Silakan berbagi pada kolom komentar di bawah, Samsara akan memberikan bingkisan menarik bagi tiga cerita yang paling menarik!

4 thoughts on “Tentang Otoritas Tubuh

  1. Jangan lupa cantumkan alamat email yang jelas pada kolom yang disediakan, kami akan menghubungi tiga orang dengan cerita paling menarik untuk menanyakan alamat pengiriman bingkisan melalui alamat email tersebut 😉

  2. Pengalaman saya adalah ketika saya mencoba mengikuti trend teman” lingkungan yg menggunakan rok panjang dan jilbab panjang pdhl ada ketidaknyamanan lebih menyukai pakai celana dan jilbab sumpek namun sindiran dan anggapan negatif selalu terjadi.

    Bahkan yg lebih saya tidak suka adalah.. Kedekatan n kemurahan sama dalam berteman dianggap sesuatu ya “gampang” untuk diajak berbuat pelecehan seksual. Seperti dirayu untuk melakukan hub seksual. Hal ini mereka liat krn sya tidak terbungkus rapi dan wangi tdk sprt tmn” saya ya sangat amat terbungkus rapi dan wangi menjaga jarak dan pandangan.

    Sedangkan saya? Merasa terkekang jika harus membatasi diri dari pergaulan” lain jenis. Iya hanya ingin menikmati hidup tanpa harus dianggap negatif dan dilecehkan kan saya beda dengan yg lain.

    Dan ingin cek kanker servis, payudara atau sejenisnya. Namun, pastinya itu akan menambah anggapan negatif teman” dan org” sekitar.

    Bebaskan aku dari penjara” kehidupan

  3. Sebelum mengenal seseorang dan mengetahui tentang samsara dengan jargonnya “Tubuhku, Otoritasku”. Aku adalah orang yang masih takut dalam berpakaian terbuka dan memandang tubuh gemukku secara negatif. Semua itu semata-mata karena keluargaku merupakan keluarga dengan keyakinan islam yang ‘kolot’ dan hampir semua orang di dekatku memandang negatif tubuh gemukku sebagai suatu hal yang menjijikkan. Bahkan, mamaku selalu mengatakan “kalau kamu berjilbab dan pakai pakaian tertutup. semua kekuranganmu akan tertutupi” ketika aku memutuskan untuk melepas secara utuh jilbabku. Aku dicaci maki oleh mamaku seperti biasa. Mama bahkan pernah berteriak di depanku mengatakan “KAMU PIKIR KALAU KAMU GA JILBABAN, RAMBUT DIURAI SAMA PANTAT SEGEDE EBROT ITU KAMU CANTIK HAH?”.

    Jujur saja, hal itu sangat menyakitiku. Bagaimana mamaku sendiri yang menghina fisikku dan keluar dekatku yang menghina fisikku karena aku gemuk. Tapi aku tetap pada pendirianku saat itu untuk melepas hijabku secara seutuhnya. Tidak lagi lepas pasang. Kemudian aku menjalani hari-hariku dan aku merasa aku menemukan kebahagiaan baru dengan menjadi sosok baru. Sampai sekitar seminggu lalu untuk pertama kalinya, aku pergi ke mall memakai hot pants dan aku merasa bahwa itu yang aku inginkan dan membuatku merasa bahagia. Selama ini jika memakai celana pendek aku hanya berani memakai kolor, itupun hanya sebatas pergi ke indomaret. Ah, walau aku pernah ke bar di daerah prawirotaman sekali menggunakan kolor pendek. Aku sangat nyaman ketika memakai celana pendek keluar rumah. Sebelum aku memberanikan diri memakai hot pants ke mall itu. Beberapa hari sebelumnya aku memotong celana panjangku menjadi celana pendek dan itu lebih dari satu celana. Aku merasa aku menemukan kenyamanan yang selama ini aku cari. Akupun tak peduli dengan tatapan orang lain walau terkadang risih juga. Keputusan untuk memakai pakaian seperti itu untuk aktifitas bukanlah suatu hal yang mudah. Karena aku merantau di jogja dan tinggal bersama orang tua asuhku yang merupakan orang liberal. Aku dibebaskan untuk melakukan semua hal yang memang membuatku bahagia. Aku bahkan tidak bisa membayangkan aku akan dicaci maki seperti apa oleh orang tuaku jika mereka tau bagaimana cara berpakaianku disini. Aku hanya bisa berharap mereka akan menerimaku sebagai manusia seutuhnya karena tubuhku adalah otoritasku.

  4. Otoritas tentang tubuh diatas mengingatkan kembali pada kenangan tidak menyenangkan di SMP dulu… Saat itu sedang ada razia isi tas yang dilakukan oleh seorang guru laki2 berinisial pak “S”, razia sendiri dilakukan karena ada yang kehilangan uang kalau tak salah. Satu persatu di periksa oleh bapak tesebut hingga akhirnya giliran tiba tas saya… Awalnya normal hingga sampai pada akhirnya si bapak tertawa sambil mengeluarkan pembalut yang ada ditas saya, saya binggung apa ada yg salah? Tanpa di duga pak S mengangkat pembalut yg saya bawa setinggi-tingginya dengan melepas bungkusannya jd hanya benar2 pembalutnya saja dan berkata dengan keras sambil tertawa “kamu lagi mens ya?”, “kalian tahu ini apa?” “pembalut, pak”jawab siswa yg lain serentak diiringi tawa pula terutama dari siswa laki-laki. Kejadian itu membuat saya berpikir…mens dianggap lelucon bagi lawan jenis dan terutama trauma dgn guru laki, serta cara menyimpan pembalut secara hingga diketahui orang lain bahwa pembalut adalah hal yang harus ditutupi (tidak diketahui oleh orang lain) ketika sudah milik privat dan bukan barang yang terpajang dietalase toko.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *