Sejarah dan Makna Hari Ibu

Hampir di semua media sosial seperti Facebook, Twitter dan Blackberry, para penggunanya memasang foto kemesraan dengan orang tua, khususnya Ibu pada 22 Desember lalu.

Tentunya, pemasangan foto tersebut dimaksudkan untuk mengucapkan selamat hari Ibu kepada Ibunda tercinta.  Mereka ingin mengucapkan terima kasih atas jasa Ibu dalam merawat dan membesarkan mereka.

Meski memiliki niat baik sebagai bentuk ucapan terima kasih atas peran dan jasa Ibu. Namun, tidak banyak diantara mereka yang justru mengerti tentang makna dan sejarah hari Ibu.

Rani misalnya. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta ini mengatakan, dirinya hanya ikut-ikutan memasang foto saat bersama Ibu nya sebagai bentuk peringatan hari Ibu.

“Saya taunya hanya hari Ibu. Seperti kekinian, ya ikut teman-teman memasang foto kemesraan bersama Ibu,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan Amanda. Baginya, hari Ibu adalah bentuk penghormatan terhadap Ibu yang telah berjuang dalam membesarkan anak.

Menurutnya, Ibu adalah sosok penting dalam keluarga dan tidak ada yang bisa menggantikannya.

“Bagi saya, Ibu ya tetap Ibu. Tidak ada yang namanya mantan Ibu,”cetusnya.

Memang, sejak era teknologi yang terus berkembang, di momen-momen tertentu seperti hari Ibu, akan banyak dijumpai status, foto hingga meme ucapan Mothers Day.

Tidak salah apa yang dilakukan kaum muda tersebut, namun satu yang mereka lewatkan adalah sejarah dan makna hari Ibu itu sendiri.

Aktivis Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Surabaya  (Pusham) Ubaya, Dian Nuswantari mengatakan, esensi hari Ibu pada saat sekarang ini sangat melenceng jauh dari apa yang dicita-citakan perempuan di era perjuangan dulu.

Hari Ibu sejatinya tidak hanya domestifikasi perempuan atau perempuan hanya sebatas konco wingking (teman belakang) yang sekedar memasak, melahirkan dan membesarkan anak, seperti apa yang tertuang dalam Kongres Perempuan Pertama, 22 – 25 Desember 1928 di Jogjakarta.

Dalam kongres yang dihadiri 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera ini, berhasil merumuskan 4 tuntutan perempuan, yakni anti perdagangan perempuan dan anak, anti poligami, kesetaraan pendidikan dan Indonesia Merdeka.

Kongres Perempuan inilah, yang kemudian oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1953, tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu yang garis besarnya adalah Kebangkitan Perempuan Indonesia.

Menurut Dian, hari Ibu adalah hari yang spesial karena sebagai simbol perjuangan kaum perempuan. Dan seharusnya, sosok Ibu tidak hanya dipahami sebagai istri, Ibu dan sekedar mengurusi rumah tangga.

Reporter : Yovinus Guntur
Editor : Wita Ayodhyaputri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s