Bagaimana Sebuah Berita Diproduksi untuk Memojokkan Perempuan?

    163
    produksi berita
    Sumber: Pixabay

    Karya jurnalistik harus berpihak. Jurnalistik bisa jadi seperti mata pisau, bisa berguna untuk mempermudah aktivitas manusia, tapi juga bisa digunakan untuk membunuh. Kita tahu berbagai macam perubahan penting dalam sejarah umat manusia melibatkan dan dirangsang oleh kerja-kerja jurnalistik. Mulai dari peristiwa reformasi 1998 yang tidak bisa dipisahkan dari peran pemberitaan oleh Majalah Tempo, sampai Arab Spring yang dipicu oleh gerakan sosial via Twitter.

    Di era internet dan media sosial ini, kerja jurnalistik memproduksi berita semakin mudah, akan tetapi, hal tersebut tidak menjamin berita jurnalistik memiliki keberpihakan yang jelas. Pada titik ini jurnalistik bisa berubah jadi pisau yang membunuh manusia. Misalnya, untuk berita-berita tentang HAM, kehidupan minoritas, hak-hak sosial-politik perempuan, dll., sering kali pemberitaan dilakukan tanpa memiliki perspektif yang adil. Akibatnya, alih-alih memberikan kejernihan pada persoalan-persoalan minoritas, berita jurnalistik malah semakin menguatkan stigma dan memperkeruh persoalan.

    Contoh gamblangnya dapat kita temukan dalam berita Ada Chat Suami dengan Wanita Lain, Begini Reaksi Jennifer Dunnyang dimuat di Liputan 6. Secara umum, kita bisa belajar tentang peran media untuk menggiring opini dan mempengaruhi tindakan publik yang  memojokkan perempuan dari berita tersebut.

    Jika sepintas diamati, konten berita tersebut berfokus pada respon Jennifer Dunn atas chat yang dilakukan suaminya dengan perempuan lain, padahal pokok masalahnya sebenarnya ada pada tindakan suaminya. Secara umum perselingkuhan merupakan bentuk relasi yang tidak sehat antara laki-laki dan perempuan. Ketika ada indikasi suami melakukan perselingkuhan dengan bukti chat dengan perempuan lain, menjadi tidak adil jika hanya membahas tanggapan dari salah satu pihak saja.

    Terlepas dari apakah berita “main belakang” suami Jennifer Dunn itu benar atau tidak, yang perlu digarisbawahi adalah kenyataan bahwa hanya Jennifer Dunn saja yang dimintai tanggapan tentang peristiwa tersebut, sementara laki-laki justru tidak dimintai tanggapan. Kenapa lagi-lagi perempuan yang disalahkan? Bukankah seharusnya untuk menyusun berita yang adil dan berimbang, konfirmasi harus dilakukan kepada kedua belah pihak? Pada titik ini, kita bisa tahu bahwa ketika sebuah produk jurnalistik tidak memiliki perspektif yang adil, peristiwa yang diberitakan justru akan semakin keruh.

     

    sumber: www.hercampus.com

    Selama ini, perempuan selalu menjadi pihak yang tidak diberi ruang untuk menyuarakan haknya, hanya jadi sosok yang dipersalahkan dalam berbagai kasus. Apakah kamu pernah menemui perempuan korban kekerasan seksual yang malah disalahkan dengan alasan cara berpakaian, tingkah laku, ataupun yang lainnya? Pada kasus Jennifer Dunn, pola serupa yang memojokkan perempuan terulang dalam bentuk berita yang hanya mengeksploitasi pendapat perempuan, tanpa melihat posisi laki-laki sebagai pihak utama  dalam peristiwa tersebut. Jurnalistik seharusnya bisa membantu kita memahami persoalan secara jernih, akan tetapi dalam pemberitaan tentang suami Jennifer Dunn ini, justru menguatkan stigma bahwa perempuan adalah pihak yang harus disalahkan dalam sebuah perselingkuhan, atau dalam hal lain yang seringnya justru hanya merugikan perempuan.

    Publik tidak disuguhi berita yang mengedepankan perspektif HAM yang adil terhadap semua pihak, terutama perempuan sebagai pihak yang sering kali dirugikan. Selama ini kita hidup dalam masyarakat yang penuh dengan stigma dan prasangka negatif tentang perempuan. Jurnalistik punya peran untuk melawan stigma dengan menghadirkan informasi yang adil dan berimbang.

    Berita atau produk jurnalistik lainnya memiliki peran untuk mengarahkan tindakan publik. Bukan tidak mungkin jika sebuah berita menjunjung tinggi perspektif Hak Asasi Manusia, berita tersebut bisa menciptakan perubahan sosial. Selama ini, setiap tindakan ataupun stigma yang merugikan perempuan bisa terjadi karena media cenderung melepaskan perspektif HAM saat melakukan pemberitaan, terutama ketika objek beritanya adalah perempuan. Akibatnya, dalam berbagai persoalan, perempuan hanya di-framing menjadi objek pelampiasan kesalahan.

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Please enter your comment!
    Please enter your name here