[POPCORNer] 12 Angry Men (1957)

Selamat datang kembali di edisi kedua POPCORNer! Nah, di edisi kedua ini, kita akan bicara soal prejudice, atau opini yang tidak didasarkan pada alasan dan pengalaman sebenarnya, tetapi dari prasangka semata. Nah, kalau kita mau ngobrolin soal prejudice dengan media pop, paling tepat bila kita mengulas film berjudul 12 Angry Men yang dirilis tahun 1957. Lho, kenapa tidak membahas film 2005 besutan Paul Higgins, Crash, saja? Atau mungkin Babel besutan Alejandro González Iñárritu yang memang banyak bermain dengan film-film tentang prejudice?

Memang benar, dibanding Crash atau Babel, 12 Angry Men memang tidak menjadikan orang-orang kulit berwarna sebagai target prejudice. Apalagi Crash dan Babel yang dikeluarkan lebih akhir—Crash di tahun 2005 dan Babel di tahun 2006—lebih cocok disebut sebagai produk budaya pop dibanding 12 Angry Men yang dikeluarkan lebih dari setengah abad yang lalu. Namun, 12 Angry Men memiliki kekuatan dibanding film-film tentang prejudice lainnya. Apa itu? Untuk menjawabnya, ada baiknya kita menyimak kembali kutipan terkenal mengenai kesetaraan, “Some people are more privileged than others.”

12 Angry Men sedikit menyindir mengenai hal yang satu itu. Bahwa memang benar di antara semua manusia yang ada di atas bumi ini, ras kaukasian—atau white people, bila kita menyebutnya dalam bahasa yang lebih kekinianadalah orang-orang yang secara sosial paling banyak mendapatkan keistimewaan hanya karena mereka terlahir sebagai white people; dan bahwa prejudice biasanya dijatuhkan pada mereka yang tidak memiliki privilege oleh mereka yang memiliki privilege. 12 Angry Men kembali mengingatkan kita bahwa terlahir sebagai white people tidak lantas membuat seseorang terbebas dari prejudice.

Secara singkat, 12 Angry Men bercerita tentang 12 orang juri pengadilan yang tengah berunding untuk memutuskan nasib seorang terdakwa. Sepanjang film, tidak sekalipun kita diperlihatkan sosok yang menjadi terdakwa, namun dari diskusi yang dilakukan oleh 12 juri ini kita mengetahui bahwa terdakwa adalah seorang anak berusia 18 tahun yang lahir dan tumbuh besar di slum area. Anak ini didakwa melakukan pembunuhan oleh ayahnya, dan bila dia didakwa bersalah oleh kedua belas juri ini, dia akan mendapatkan hukuman mati. Sayangnya, bahwa anak tersebut, dakwaan ini diperkuat oleh sejumlah kesaksian.

Seorang perempuan yang tinggal di gedung di seberang gedung apartemen terdakwa bersaksi bahwa dia mendengar teriakan sang ayah dan melihat terdakwa menikam ayahnya. Seorang laki-laki tua yang tinggal di apartemen tepat satu lantai di bawah apartemen terdakwa bersaksi bahwa ia mendengar suara keras, dan saat ia keluar dari apartemennya, ia melihat terdakwa berlari menuruni tangga. Koroner yang menangani kasus tersebut bersaksi bahwa terdakwa, yang pulang ke apartemennya dua jam setelah ayahnya tewas, tidak mengingat film apa yang ditontonnya di bioskop saat kejadian berlangsung. Terakhir, pemilik toko pisau bersaksi bahwa dirinyalah yang menjual pisau yang ditemukan di lokasi kejadian kepada terdakwa.

12 Juri ini lantas mendiskusikan masing-masing kesaksian tersebut dan menelaah dengan lebih mendalam masing-masing dari kesaksian untuk memutuskan bahwa terdakwa akan dinyatakan bersalah atau tidak. Bila hanya membaca sinopsis singkat di atas, mungkin kamu akan berpikir bahwa film ini hanyalah film bertema ruang sidang biasa yang tidak ada sangkut-pautnya dengan prejudice. Namun bila kamu pernah menontonnya, kamu akan paham bahwa masing-masing dari dua belas juri yang ada memiliki prasangkanya masing-masing. 12 Angry Men seolah ingin menunjukkan bahwa prasangka bukanlah sekadar prasangka. Terkadang, prasangka yang kita miliki terhadap seseorang juga menentukan hidup dan matinya seseorang. Bila 12 juri dalam 12 Angry Men tidak menelaah baik-baik setiap kesaksian yang memberatkan terdakwa dan langsung memutuskan berdasarkan prasangka yang mereka miliki, seorang remaja delapan belas tahun akan kehilangan hidupnya di atas kursi listrik.

Kembali pada pernyataan some people are more privileged than others, 12 Angry Men dengan baik mengemas pernyataan tersebut dengan menunjukkan bahwa sekalipun terdakwa yang berkulit putih mestinya memiliki white privilege, namun karena terdakwa berasal dari kalangan menengah ke bawah, tidak berpendidikan tinggi, tidak memiliki pekerjaan yang mentereng, para juri tidak terlalu menganggap pentingnya. Salah seorang juri bahkan digambarkan merasa kesal karena tidak bisa menonton pertandingan baseball akibat diskusi yang berlarut-larut demi nyawa terdakwa yang dipertaruhkan.

Seperti judul lagu yang dirilis Lady GaGa di tahun 2015, Till it Happens to Youprivilege membuat seseorang bisa seenaknya menghakimi dan melempar prasangka atas hidup orang lain karena alasan yang sederhana: mereka tidak harus menjalani apa yang biasa dijalani oleh orang-orang yang tidak memiliki privilege. Anak-anak di kota besar bisa saja merasa bosan ke sekolah dan tak bisa melihat pentingnya sekolah karena mereka tidak harus berjalan kaki sejauh sekian kilometer untuk pergi ke sekolah. Orang-orang kaya bisa mencemooh demo-demo buruh karena mereka tidak harus membanting tulang di lingkungan kerja yang tidak manusiawi hanya untuk bisa makan. Orang-orang yang seumur hidupnya memiliki bentuk tubuh yang ideal bingung apa susahnya berdiet karena tidak pernah tahu kalau berat badan tidak bisa turun semudah nilai tukar rupiah.

Satu hal yang paling menarik dari 12 Angry Men adalah caranya yang tidak memperkenalkan nama tokoh-tokohnya. Di antara kedua belas juri, penonton hanya tahun nama dua orang di antaranya saja, Davis dan McCardle—itupun hanya disebutkan sekali saja di akhir film. Sepuluh orang sisanya? Sama sekali tidak disebutkan. Satu dari sepuluh juri tersebut bisa saja bernama Joko Widodo, atau Prabowo, atau Beno, atau Jono, atau siapapun. Kenyataannya, kita memang tidak perlu memiliki nama tertentu untuk bisa melayangkan prejudice pada orang lain. Semua orang bisa memiliki prejudice. Semua orang bisa melemparkan prasangka.

 POPCORNer. Merupakan sebuah sudut di Samsara yang dikhususkan untuk mengulas produk-produk budaya pop dengan kacamata feminisme. Kamu bisa mengusulkan produk budaya pop apa lagi yang perlu kita ulas berikutnya. POPCORNer terbit setiap Sabtu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s