Memahami Kehidupan Bersama Lagu Avicii

80
https://www.youtube.com/watch?v=ZkAg7jsmv_E

Electronic Dance Music (EDM) memang sedang merajai di hati masyarakat, coba saja kunjungi tangga lagu Billboard Chat Hot 100, EDM mendominasi tangga lagu tersebut dibandingkan jazz atau classic. Musik EDM cenderung digemari karena alunan musiknya yang enak didengar sekaligus membuat kita ingin menari. Namun, apakah EDM sebenarnya hanya dapat dinikmati dari cara DJ memainkan musiknya saja? Bagaimana jika sebenarnya liriknya mempunyai pesan yang sangat dalam bagi kehidupan?

Bicara mengenai kehidupan memang ‘ngeri-ngeri-sedap’, ingin cari teman untuk mengobrol nanti dibilang terlalu baper dengan kehidupan, sementara kalau cuek akan dikatakan terlalu flat. Sebaiknya, bagaimana cara kita memahami kehidupan ini?

Coba duduk manis dan dengarkan lagu EDM masa kini karya Avicii, Waiting for Love. Terlepas dari berita kematiannya, Avicii masih hidup. Dia ada di dalam setiap hati penggemarnya. Mungkin, begitulah kata yang tepat untuk kembali memberi semangat setelah kehilangan sosok DJ tersebut. 20 April 2018 mungkin menjadi hari yang tidak begitu disenangi banyak orang, khususnya pendengar EDM. Sebab, pada hari tersebut Avicii menyudahi perjalanan musiknya di dunia. Dia pergi meninggalkan karier, musik, dan lagunya, salah satunya Waiting for Love. Jika mendengarkan lagu tersebut dengan saksama, kita akan mengetahui bahwa makna yang ada dalam lagu tersebut bukan persoalan ‘menunggu’ seperti yang ada pada judulnya.

Where there’s a will, there’s a way,

Pembuka dari lagu Avicii tersebut mungkin merupakan bentuk ungkapan paling kuno yang pernah kita dengar, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.” Punya kemauan saja memang tak cukup untuk mewujudkan sebuah impian, tapi jika kemauan untuk mewujudkan sebuah impian saja tak ada, maka bagaimana mungkin kita dapat mencapainya?

And if there’s love in this life, there’s no obstacle
That can’t be defeated

Mengutip ungkapan Mahatma Gandhi, “Where there is love, there is a life.” Kata cinta mungkin terdengar sangat menarik jika diungkapkan kepada pasangan, namun menjadi tidak menarik jika kita mengungkapkannya ke teman, suasana, tempat, barang, dan kefanaan lainnya. Membayangkan bahwa cinta bisa direalisasikan dalam berbagai suasana dan tempat, sama halnya membayangkan tidak ada intoleransi, kebencian, peperangan, dan saling menyakiti. Kita berharap agar cinta bisa ditemukan di banyak perkara dan tempat, tapi rasa kebencian juga masih memenuhi sebagian hidup.

Monday left me broken
Tuesday I was through with hoping
Wednesday my empty arms were open
Thursday waiting for love, waiting for love
Thank the stars it’s Friday
I’m burning like a fire gone wild on Saturday
Guess I won’t be coming to church on Sunday
I’ll be waiting for love

Lirik lagu di bagian tersebut menceritakan tentang sebuah perjalanan hidup. Bagi sebagian, Senin mungkin dianggap hari yang buruk karena harus kembali bekerja, dengan pekerjaan yang menumpuk, dan kembali untuk lembur. Yaaa, Senin adalah hari yang memberikan setumpuk beban untuk dipikul. Namun, bukan berarti hidup terus ada di hari Senin, bukan?  Ada hari Rabu yang membuat kamu kembali berharap untuk memulai hal dan tantangan yang baru.

Bagi beberapa orang, kata ‘cinta’ yang ada dalam lagu Avicii mempunyai makna yang luas. Di video klipnya, kita melihat adegan seorang kakek yang mencari istrinya hingga akhirnya mereka bertemu di akhir lagu, mungkin itu adalah salah satu representasi menunggu ‘cinta’ ala sang kakek, tapi sebenarnya masih banyak hal lain yang ditunggu dan dicari dalam hidup. Kita mencintai dan menunggu agar dunia lebih damai, lebih adil, dan setara di masa depan

How did I get so blind and so cynical
If there’s love in this life, we’re unstoppable

Orang-orang mungkin mendapatkan sesuatu yang lebih dibanding kita, mereka punya banyak teman, mobil mentereng, pekerjaan yang mapan, dan follower media sosial yang banyak. Hidup sempurna!

Anna-Maija Tolppanen, peneliti dari University of Eastern Finland, menyebutkan bahwa orang yang mudah sinis lebih cepat meninggal atau kesehatannya buruk. Mengerikan bukan? Sinis yang membawa penderitaan.

Memasrahkan hidup kita untuk diukur secara materiel adalah awal untuk memenjarakan kehidupan sendiri. Mengapa hidup perlu dihitung dari jumlah kekayaan, pekerjaan, dan follower Instagram jika dengan mencukupkan cinta dalam kehidupan diri sendiri adalah hal yang paling bahagia?

Ya, persoalan menunggu memang bukan hal yang biasa-biasa saja. Waktu dalam hidup kita habiskan untuk melakukan kegiatan menunggu. Dari menunggu makanan datang, menunggu gajian, sampai menunggu peperangan berakhir. Kemurungan, kesedihan, kekecewaan, kesinisan, dan harapan itu nyata dalam menunggu. Tidak ada yang mudah dalam hidup. Namun, membuat hidup lebih mudah adalah keputusan masing-masing individu.

Terima kasih Avicii, terima kasih atas karyamu!

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here