Geng Gulabi: Geng Feminis dengan Pentung dari India

70
geng gulabi
Gambar: www.theodysseyonline.com

“Jika seseorang akan memukul kepalamu, bagaimana caramu melindungi diri?” tanya seorang perempuan paruh baya. Ia memegang sebuah tongkat panjang di atas kepalanya, mencoba mengayunkan tongkat itu kepada perempuan lain yang jauh lebih muda di hadapannya.

“Aku akan memegangnya seperti ini,” kata perempuan muda sambil mengangkat tongkatnya. Mereka berdua sama-sama memakai Sari -baju adat India- berwarna merah muda dan kini sama-sama memegang tongkat panjang.

“Baiklah, sekarang aku akan memukulmu.”

Lalu tongkat keduanya berayun. Mereka adalah Sampat Pal Devi, pendiri Geng Gulabi, dengan salah seorang anggotanya, yang sedang berlatih menggunakan lathi-tongkat panjang tradisional India. Sesekali terdengar gelak tawa dari puluhan perempuan lain yang menyaksikan mereka berdua berkelahi menggunakan tongkat. Sama seperti Sampat Pal Devi dan lawan mainnya, mereka juga mengenakan Sari berwarna merah muda, berkumpul di sebuah lapangan, menunggu gilirannya berkelahi.

Geng Gulabi dan Perlawanannya

Gulabi adalah bahasa India untuk menyebut warna merah muda. Ini karena setiap kali melakukan konfrontasi, mereka secara kompak menggunakan Sari berwarna merah muda, sebuah simbol untuk menandai perlawanan mereka. Geng Gulabi didirikan oleh Sampat Pal Devi, perempuan yang lahir pada tahun 1958 dari Banda, salah satu wilayah paling miskin di distrik Bundelkhand, provinsi Uttar Pradesh, India Utara. Meski Devi menyebutnya sebagai geng, tetapi ia menolak mengasosiasikan Geng Gulabi dengan tindakan kriminal.

“Kata geng bisa berarti sebuah tim, sebuah kru. Kami adalah sebuah tim untuk menuntut keadilan,” ungkap Devi seperti dilansir dari vice.com.

Devi yang menikah pada usia 12 tahun ini mendirikan Geng Gulabi dengan tekad untuk melawan kekerasan yang menimpa perempuan seperti dirinya. Semua bermula ketika ia, pada suatu hari melihat seorang suami memukuli istrinya tanpa ampun. Ia memohon kepada pria tersebut untuk berhenti tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Keesokan harinya, Devi kembali bersama lima kawannya, semua perempuan dan masing-masing membawa lathi. Mereka menghajar pria tersebut atas tindakannya menganiaya istrinya sendiri. Kabar mengenai peristiwa tersebut lantas tersebar dengan cepat hingga membuat banyak perempuan lainnya meminta Devi melakukan hal yang sama.

Pada tahun 2006, Devi akhirnya secara resmi memberi nama timnya dengan sebutan Geng Gulabi. Sejak saat itu hampir setiap hari mereka menerima laporan penganiayaan yang berdasarkan pada kekerasan gender seperti pemerkosaan, pernikahan anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan lain sebagainya. Pada perjalanannya, Geng Gulabi bahkan tidak hanya menangani kasus-kasus tersebut. Mereka turut mengupayakan pemberdayaan perempuan dengan menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak dan membekali perempuan miskin dengan keterampilan seperti menjahit, dengan tujuan untuk menunda usia pernikahan mereka.  Hanya dalam waktu dua tahun setelah didirikan atau tepatnya pada tahun 2008, anggota Geng Gulabi bahkan telah mencapai sepuluh ribu perempuan. Dukungan yang sangat masif ini diperoleh tanpa butuh waktu lama karena perlawanan mereka bersifat langsung sehingga dampaknya juga kentara.

Perlawanan yang Lahir dari Sarang Kejahatan

Seperti dilansir dari Aljazeera, pada tahun 2013, Uttar Pradesh termasuk salah satu provinsi di India Utara yang paling tidak aman bagi perempuan dan anak-anak dengan 1.963 kasus pemerkosaan, 7.910 kasus penculikan, dan 2.244 kasus pembunuhan. Sementara itu, sebagai bagian dari provinsi ini, Bundelkhand adalah sebuah distrik yang sangat miskin dengan populasi penduduk yang meledak. Keadaan ini belum ditambah dengan korupsi yang terjadi pada semua level birokrat, sistem ekonomi yang tidak produktif, hingga pemberlakuan sistem kasta yang bahkan masih dapat disaksikan hingga saat ini. Semua ini menjadikan wilayah tersebut sebagai sarang kejahatan yang bisa menimpa siapapun terutama perempuan dan anak-anak.

Di bawah sistem patriarki, situasi ini bisa menjadi lebih buruk karena perempuan dan anak-anak ditempatkan sebagai warga negara kelas kedua sehingga mereka sangat berpotensi menerima penindasan berlapis. Jika mereka tinggal pada sebuah wilayah miskin seperti misalnya di Bundelkhand, Uttar Pradesh, India Utara, maka mereka tidak saja bertahan hidup dari kemiskinan, tetapi juga dari kekerasan berbasis gender seperti pemerkosaan, perkawinan anak, KDRT, genital mutilation, pemaksaan kehamilan, pelecehan seksual, dan masih banyak lagi. Ini belum sampai pada puncaknya, karena yang terburuk dari semua tindak kekerasan tersebut adalah seringkali hukum tidak berpihak pada perempuan dan anak. Belum lagi jika mereka adalah perempuan dan anak-anak miskin atau perempuan dan anak-anak dari kasta terendah. Ini lah yang membuat Devi pada akhirnya memutuskan memilih bentuk perlawanan yang berbeda dari Mahatma Gandhi, bapak pendiri negara India.

“Saya sangat menghormati Gandhi. Ia adalah bapak bangsa kami,” kata Devi dalam sebuah wawancara dengan Journeyman TV. Ia berhenti agak lama sebelum melanjutkan perkataannya, “Tapi saya punya gaya yang berbeda. Saya Sampat Pal. Saya melakukan apa yang menurut saya benar.”

Mendapatkan Pengakuan

Tidak jarang Devi beserta anggota gengnya melakukan perjalanan menggunakan gerobak, traktor, bus, dan kereta untuk menjangkau wilayah-wilayah lain di luar tempat tinggalnya. Mereka menggasak setiap pelaku kekerasan baik itu seorang suami, seorang ayah, atau seorang anggota kepolisian sekalipun. Ia pernah memukul seorang polisi dengan tongkatnya karena diserang setelah melaporkan sebuah keluhan. Pada lain kesempatan ia mendatangi sebuah desa untuk menikahkan sepasang kekasih yang tidak berhasil mendapatkan restu dari masing-masing orang tuanya. Devi dengan suara lantang berkata bahwa tidak ada yang dapat memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai. Setelah melakukan negosiasi, sepasang kekasih itu pun akhirnya dinikahkan. Tidak hanya sampai di sana, Devi juga memberi peringatan keras kepada mempelai pria untuk menghormati istrinya.

“Jika kamu melakukan apapun itu yang sifatnya ilegal dan salah kepada gadis ini, kamu akan dihukum seberat-beratnya,” kata Devi.

“Jangan pernah memukul gadis ini. Kamu harus menjaminnya karena jika kamu memukulnya, aku akan kembali lagi,” lanjutnya.

Ia lantas berkata di depan warga yang datang menyaksikan prosesi pernikahan, mempertanyakan hak seorang perempuan yang selama ini selalu diabaikan.

“Jika seorang laki-laki melakukan kesalahan, apakah seorang perempuan dapat memukulnya?”

“Dia tidak dapat melakukannya,” jawab seorang pria sambil tersenyum meremehkan. Beberapa orang ikut tertawa mendengarnya.

“Mengapa tidak? Laki-laki memiliki kesalahan. Perempuan memiliki kesalahan. Mereka harus menghormati satu sama lain. Kontrak pernikahan harus memuat hal ini.”

Berkat keberanian Devi dan anggota lainnya, Geng Gulabi berhasil dikenal dan disegani oleh banyak orang, dan bahkan telah mendapatkan pengakuan dari otoritas setempat.

“Geng Gulabi telah menunjukkan hak-hak perempuan dan membangkitkan semangat melawan eksploitasi yang selama ini dialami oleh perempuan,” kata Arvind Sen, petugas pengawas kepolisian wilayah Banda, seperti dilansir dari Aljazeera.

Pada tahun 2012, seorang sutradara bernama Nishita Jain membuat film dokumenter mengenai Geng Gulabi. Film dokumenter berdurasi 96 menit itu pun memenangkan sejumlah penghargaan, salah satunya dalam ajang Festival Film Dokumenter Internasional Aljazeera dan Festival Film Internasional Dubai. Tidak mau ketinggalan, industri film terkenal India, Bollywood, juga turut menjadikan kisah perjalanan Geng Gulabi sebagai salah satu ide filmnya. Meskipun Devi sempat menolak film ini.

“Tamasya Bollywood ini adalah kisah yang dibuat-buat. Aku tidak akan mengijinkan film ini dirilis,” ujar Devi.

Sampai saat ini, Geng Gulabi masih terus memperjuangkan hak-hak perempuan India yang selama ini diabaikan. Perjuangannya adalah bagian dari cita-cita mewujudkan kesetaraan yang perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat global. Kekerasan berbasis gender apapun itu bentuknya melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan sudah semestinya menjadi perhatian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here