Bagaimana Siklus Kekerasan Berputar dalam Bedevilled

93
film bedevilled

Jagad film Korea barangkali adalah salah satu yang tidak pernah malu-malu menampilkan kekerasan dalam bentuk paling menyakitkan sekalipun. Film mereka kerap sangat mengganggu mentalitas penonton. Menaburkan teror sepanjang film tanpa tedeng aling-aling. Apalagi jika yang menjadi pusat kekerasan adalah perempuan. Kalau pun berhasil menyaksikan film sampai habis, yang tersisa nyaris hanya ruang untuk mencerca: bagaimana mungkin manusia bisa bersikap sejahat itu?  

Bedevilled, salah satu film Korea yang rilis tahun 2010 adalah salah satu yang berhasil menangkap seluruh teror mematikan yang sanggup dialami seorang perempuan. Film yang digarap oleh sutradara bernama Jang Cheol Soo ini bahkan sama sekali tidak memberi kesempatan kepada penonton untuk menghela nafas. Sejak menit-menit pertama, Bedevilled sudah membangun situasi yang sarat misoginis: pelecehan seksual di jalan, intimidasi di ruang publik, dan ketidakberpihakan terhadap korban.

Hae Won (diperankan Hwang Geum Hee) adalah seorang pegawai bank yang tinggal di pusat kota dan terpaksa mengambil cuti setelah mengalami dua kali insiden tidak menyenangkan. Pertama, ia menjadi saksi dalam sebuah kasus pelecehan seksual dan yang kedua, di tempatnya bekerja, datang seorang nasabah perempuan yang meminta bantuan dana. Hae Won memilih untuk mengabaikan semuanya. Ia mengaku tidak melihat pelecehan seksual yang sejujurnya ia saksikan dan justru menghardik nasabah yang datang kepadanya. Hae Won seolah mewakili sikap masyarakat yang terkadang memilih untuk bungkam ketika mengetahui kasus kekerasan seksual.

Tetapi, kekerasan yang mengerikan baru akan dimulai ketika ia memutuskan untuk berlibur di sebuah pulau kecil bernama Moo Doo. Dulunya, Hae Won sempat menghabiskan masa kecilnya di pulau ini bersama dengan kakek dan seorang sahabatnya yang bernama Bok Nam. Moo Doo sendiri adalah sebuah pulau terpencil dimana hanya ada sekelompok orang yang tinggal di tempat itu. Bok Nam, sahabatnya termasuk salah satu yang masih bertahan di sana. Lewat Bok Nam ini lah, teror yang sebenarnya dimulai.

Kekerasan dari Segala Arah

Badan Kesehatan Internasional atau WHO telah melaporkan bahwa kekerasan terhadap perempuan terjadi di seluruh negara. Paling tidak berdasarkan laporan mereka, 1 dari 3 orang perempuan di seluruh dunia dapat dipastikan mengalami kekerasan baik yang dilakukan oleh pasangan, keluarga, komunitas, ataupun negara. Film Bedevilled memotret fakta ini dengan jitu. Bok Nam adalah representasi perempuan yang mengalami kekerasan dari segala arah: suaminya, adik iparnya, orang-orang di kampungnya, dan bahkan dari Hae Won; seorang sahabat yang ia anggap dapat menyelamatkan dirinya dari kesengsaraan.

Kekerasan yang Berputar seperti Siklus

Perempuan dalam masyarakat patriarki dibayang-bayangi kekerasan sepanjang hidupnya. Sejak ia masih di dalam kandungan sampai dengan ia beranjak dewasa dan menua. Kekerasan ini disebut kekerasan berbasis gender yang meliputi pernikahan dini, pemerkosaan dalam perkawinan, pelecehan seksual, diskriminasi dalam bidang pendidikan; kesehatan; pekerjaan; hingga kehidupan sosial, dan masih banyak lagi. Lewat tokohnya yang bernama Bok Nam, film Bedevilled berusaha menampilkan siklus kekerasan yang berputar ini.

Saat masih remaja, Bok Nam diperkosa oleh sekelompok pemuda sampai akhirnya hamil dan melahirkan. Ia lantas dipaksa menikah oleh keluarganya dan diperlakukan seperti hewan ternak: dipekerjakan dengan sewenang-wenang, dipaksa melayani suaminya, diberi makan seadanya. Bok Nam juga diperkosa oleh suaminya sendiri dan bahkan adik suaminya selama berkali-kali. Sementara itu, orang-orang yang tinggal di kampungnya justru menganggapnya bagai aib yang menjijikkan. Anaknya bahkan juga dilecehkan oleh suami Bok Nam, ayah tirinya sendiri. Budaya yang tidak berpihak terhadap korban semacam ini tentu sangat mudah ditemukan dalam masyarakat patriarki. Bedevilled menangkap realita ini dengan sangat baik dan oleh karena itu film ini menampilkan kritik yang cemerlang.

Situasi yang menghimpit Bok Nam membuatnya mencari jalan keluar. Bedevilled barangkali memperlihatkan kualitasnya lewat keputusan ini. Film dengan durasi 115 menit tersebut memang menampilkan teror paling gelap yang sanggup dialami seorang perempuan tetapi film ini juga menampilkan sosok korban yang mampu melawan stigma. Bok Nam bukan tokoh yang lemah seperti banyak diproyeksikan oleh film-film kebanyakan. Ia memang dilemahkan oleh sistem dan justru karena itu ia berusaha melawan sekeras mungkin.

Film Feminis yang Mendapat Penghargaan

Berkat film Bedevilled, sutradara Jang Cheol Soo berhasil memperoleh banyak penghargaan dan tampil dalam berbagai festival film Korea maupun festival film Internasional. Untuk menyebut beberapa di antaranya film ini berhasil memenangkan Asosiasi Kritik Film Korea 2010, Festival Perempuan dalam Film Korea 2010, dan Festival Film Fantastik Amsterdam 2011. Kemenangan film ini tentu saja juga merupakan kemenangan bagi film-film dengan perspektif feminis. Bok Nam mewakili suara korban kekerasan seksual yang dengan sekuat tenaga berusaha mencari keadilannya sendiri. Bedevilled memang sudah mengganggu sejak menit-menit pertama. Ia mengusik hati nurani penonton, mempertanyakan kembali relasi antara perempuan dan laki-laki, serta posisinya di dalam masyarakat. Gangguan itu meninggalkan perasaan marah dan terluka, yang menumbuhkan perlawanan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here