Kisah Perempuan : Perlawanan yang Kekal

171

Teruntuk para perempuan yang melawan..hingga kini ataupun nanti.

Mengapa kisah tentang Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia selalu menggugah kita? Apakah karena kehidupan mereka seperti refleksi dari kehidupan kita? Bisa jadi..

Sebagai seorang pecinta film, Netflix menjadi primadona ketika mencari film yang berkisah tentang perjuangan, khususnya perjuangan perempuan maupun kelompok rentan dan minoritas lainnya. Hal inilah yang membuat saya begitu gandrung berlama-lama menikmati suguhan berbagai film didalamnya, tak lepas pula berkat kedermawanan hati sahabat perempuan saya yang memberikan akses gratis dari akunnya – Thank you so much, Jane!

Eits, tunggu, tulisan ini bukan iklan berlangganan Netflix seperti tweet iklan berlangganan yang tahu-tahu bisa muncul ketika kita iseng scrolling komentar di linimasa trending topic Twitter ya…Bukan tentu bukan.

Ah, jangan tanya sudah berapa film yang telah saya tonton dan eksplorasi menggunakan fitur pencarian di Netflix demi menikmati film-film bernuansa perjuangan perempuan atau feminisme. Banyak sekali film yang meninggalkan kesan inspiring dan powerful, begitu menyentuh, dekat dan lekat dengan kehidupan saya.

Seringkali menjalani hidup di dunia yang sangat patriarkis ini membuat kita merasa frustasi. Bagaimana tidak? Sepertinya setiap lini fase kehidupan perempuan dan kelompok rentan lainnya selalu berhadapan dengan perjuangan. Ingin berpendapat, dianggap tidak patuh, atau agresif. Ingin bepergian, ada pelecehan seksual di ruang publik yang masih mengintai. Ingin aman di ruang privat masih bisa menghadapi kekerasan seksual di ruang privat. Ingin bekerja secara layak dan aman, masih dirintangi pembayaran upah yang rendah atau kondisi lingkungan kerja yang maskulin, sehingga perempuan harus ekstra bekerja keras agar bisa menyetarakan posisinya. Belum menikah, dilontari pertanyaan kapan menikah, seolah-olah menikah adalah utang yang ditagih rentenir.

Maka begitulah, selain sebagai penghiburan, menonton film bisa menjadi refleksi sekaligus pengisian ulang daya kita menghadapi berbagai situasi di atas. Dari beberapa film yang telah saya tonton, saya memilih beberapa film berikut, tidak ada alasan spesifik, mungkin karena kisah film ini bisa sedikit mewakili dan lekat dengan pengalaman hidup perempuan sejak kecil hingga mendewasa.

  1. Wadjda
Credit : https://www.movieposterdb.com/wadjda-i2258858/af76b045

Film besutan sutradara perempuan Saudi Arabia, Haifaa Al-Mansour ini bisa menjadi refleksi kehidupan kita sebagai seorang anak perempuan. Sang tokoh utama, Wadjda merupakan anak perempuan berusia 10 tahun yang hidup di kota Riyadh. Ia menjalani harinya sebagaimana tipikal spirit anak di usianya, namun ia hidup di lingkungan yang sangat ketat dengan aturan moral dan agama.

Dengan pribadinya yang unik, ia bersekolah di sekolah khusus perempuan, menggunakan sepatu kets bertali ungu, menjadi langganan murid yang dihukum oleh kepala sekolahnya, ia mengimpikan memiliki sebuah sepeda dan bertekad untuk mengalahkan balapan sepeda dengan sahabat laki-lakinya Abdullah. Suatu ketika Wadjda melihat sebuah sepeda berwarna toska yang ia sukai, mulailah ia berusaha untuk mewujudkannya. Ia menjual gelang tali berwarna klub sepak bola, pesanan teman-temannya. Menjadi kurir surat cinta seniornya untuk upah 20 Riyal.

Wadjda berbicara dengan ibunya tentang keinginannya memiliki sepeda, namun ibunya kesal mendengarnya, Wadjda mengubah topik pembicaraan agar ibunya tidak kesal : “Bu Guru nyuruh aku pakai Abaya lengkap dengan cadar untuk menutupi wajahku”

Seketika wajah ibunya sumringah dan bercanda, “Wow, Abaya lengkap? Mungkin ini saatnya untuk menikahkan kamu!”

Dengan respon dan muka malas setengah hati Wadjda menjawab,”Ahahah. Lucu banget deh”. 

Upaya Wadjda lainnya yaitu memberikan hadiah kepada penjual sepeda agar sepedanya tidak dijual kepada orang lain. “Karena kita udah temenan, nih aku hadiahi mixtape, tapi jangan jual sepedanya sama orang lain ya”, alih-alih kesal si penjual sepeda tersenyum melihat kegigihan Wadjda yang saban waktu berkunjung ke tokonya hanya untuk melihat apakah sepeda impiannya sudah terjual atau belum.

Wadja yang cerdik tak hilang akal, ia mengikuti lomba keagamaan membaca kitab suci berhadiah sebesar harga sepeda impiannya. Ia pun menang, ketika ditanya oleh kepala sekolahnya mau digunakan apa hadiah uang tersebut, Wadjda dengan percaya diri menjawab, “Aku akan membeli sepeda!”. Terperangah dengan jawaban Wadjda, kepala sekolah langsung menasehati, bermain sepeda tidak disarankan karena dia harus menjaga diri ‘keperawanan’ sebagai kehormatannya. Lalu kepala sekolah itu mendonasikan seluruh hadiah tersebut tanpa persetujuan Wadjda.

Dengan hati gundah dan sedih ia pulang, ayahnya hanya mengucapkan selamat dan memeluknya lalu pergi. Ibu dan ayahnya sedang tidak begitu akur, karena nenek dari ayahnya menginginkan seorang cucu lelaki. Pernah Wadjda melihat gambar pohon keluarga ayahnya, ia bersemangat membaca nama-nama leluhurnya, ibunya terheran dan berkata untuk apa Wadjda senang membacanya, toh, yang ditulis dan diakui di pohon keluarga itu hanya laki-laki saja. Wadjda lalu menulis namanya di secarik kertas dan menempelkannya di pohon keluarganya, tetapi besoknya ia melihat kertas itu sudah dilepas dari papan pohon keluarga.

Wadjda yang sedih tak bisa menikmati hadiah lomba menemui ibunya yang juga sedang bersedih di atas rumahnya. Seberang rumah mereka sedang mengadakan pesta. Pesta siapa? Tanya Wadjda. Itu pesta pernikahan ayahmu, sekarang kita hanya hidup berdua saja, jangan bersedih, jawab ibunya. Sembari saling menghibur dan melihat pesta poligami ayahnya dari jauh, saat itu juga ibunya memberikan kejutan untuk Wadjda : Sepeda.

2. Period. End of Sentence.

“Perempuan itu lebih kuat, tapi mereka tidak mengenali diri mereka sendiri”

“Menstruasi dianggap tabu di negara kami”

“Makhluk terkuat di dunia bukan gajah, singa atau lainnya, tapi perempuan”

Credit : thepadproject.com

Film dokumenter pendek ini sudah memenangkan banyak penghargaan. Siswa sekolah menengah Oakwood mengumpulkan lebih dari $55.000 melalui penggalangan dana, penjualan kue, dan dua kampanye Kickstarter untuk membeli mesin pembalut perempuan untuk desa Kathikhera di luar New Delhi, India. Mereka bermitra dengan sutradara Rayka Zehtabchi dan Action India, sebuah organisasi pemberdayaan perempuan akar rumput yang bekerja di Kathikhera, untuk mendokumentasikan proses dalam apa yang akan menjadi Period. The End of Sentence. Tim Proyek Pad menjalin kemitraan yang erat dengan Action India dan terus bekerja sama untuk memasang mesin pembalut dan menyebarkan pendidikan kesehatan menstruasi di Kathikhera dan desa-desa di seluruh distrik Hapur.

Di pedesaan sekitar 60 kilometer di luar Delhi, India, para perempuan memimpin revolusi yang tenang. Mereka melawan stigma menstruasi yang mengakar. Period. The End of Sentence. menceritakan kisah mereka.

Beragam reaksi muncul ketika mereka ditanya tentang menstruasi, ada yang langsung tertawa, senyum malu, diam menunduk. Ketika para lelaki ditanya, ”Kalian tahu apa itu menstruasi?” mereka menggeleng, ada yang menjawab, “Oh itu, penyakit yang biasanya dirasakan perempuan”.

Selama beberapa generasi, para perempuan ini tidak memiliki akses ke pembalut, yang menyebabkan masalah kesehatan dan anak perempuan tidak masuk sekolah atau sama sekali putus sekolah.

“Aku masih sekolah, lalu aku mulai menstruasi, situasi menjadi sulit. Aku harus mengganti kain pergi ke tempat yang jauh, banyak laki-laki berkeliaran aku tidak bisa mengganti kain. Aku menunggu tahun berikutnya apakah ini (menstruasi) akan berhenti, ternyata tidak, dan aku berhenti sekolah”

Tapi ketika mesin pembalut dipasang di desa, para perempuan belajar membuat dan memasarkan pembalut mereka sendiri, memberdayakan perempuan di komunitas mereka. Mereka menamai merek mereka, “FLY”, karena mereka ingin para perempuan bisa dapat “terbang”.

Para perempuan berkumpul memperhatikan dengan seksama bagaimana proses pembuatan pad menstruasi dengan alat mesin yang telah dipasang. Mereka mulai mengorganisir jadwal pembuatan pembalut secara bergiliran. Lalu, mereka mulai mengenalkan produk pembalut buatan mereka. Mencari toko-toko untuk bisa menaruh pembalut tersebut. Melakukan demonstrasi kualitas pembalut hasil buatan mereka kepada perempuan lain, agar mereka bisa beralih dan tidak perlu khawatir ketika menstruasi. Dari proses pemberdayaan tersebut, banyak perempuan yang akhirnya bisa melanjutkan cita-cita mereka, bisa bekerja dan membiayai hidup. Akhirnya, mereka bisa membumbung, terbang tinggi merayakan mimpi..

3. Reversing Roe

Credit httpswww.imdb.comtitlett8948614mediaviewerrm834698752

Film dokumenter Reversing Roe mengupas tentang linimasa legalisasi aborsi di Amerika Serikat. Bagaimana aborsi ilegal menjadi legal, hingga pergeseran isu bahwa aborsi merupakan ‘urusan perempuan dan dokternya’ menjadi isu politik yang selalu dijual untuk kepentingan politik dalam meraih dukungan pemilih kelompok agamis oleh politisi Republik.

Tak ada alasan untuk kembali kesini, sesi demi sesi dan semakin mempersulit serta mendorong perempuan kembali ke aborsi ilegal, karena itulah yang akan terjadi. Mereka takkan berhenti aborsi. Mereka selalu aborsi. Kita selalu aborsi. Perempuan selalu aborsi. Dan itu akan selalu dilakukan. Jika kau ingin menghentikan aborsi, bantu aku hentikan kehamilan yang tidak diinginkan” – Cuplikan debat kebijakan amandemen terkait aborsi di Amerika Serikat

Awal tahun 1960-an aborsi menjadi hal ilegal di Amerika Serikat. Ketika itu, aborsi memang dilarang dan ternyata hanya orang tertentu saja yang bisa mengakses, yaitu perempuan kaya berkulit putih. Sedangkan lebih banyak perempuan yang tidak bisa mengakses aborsi aman, sehingga harus mencari aborsi tidak aman yang dilakukan oleh orang lain atau dilakukan sendiri yang berujung komplikasi serta kematian. Aborsi menjadi perbincangan perempuan disana,”…something that only happen to women…” Banyak perempuan yang akhirnya angkat bicara tentang aborsi. Bersamaan dengan geliat gerakan perempuan di era itu, Eleanor H. Norton (U.S Congresswomen) mengatakan, “Feminis Awal langsung mengerti bahwa aborsi merupakan masalah utama feminisme dan hak perempuan”.

Pada tahun 1973, Mahkamah Tertinggi (Supreme Court) di Amerika Serikat mendapatkan kasus aborsi pertama yang bisa naik hingga ke Supreme Court. Penggugatnya adalah Jane Roe – nama pseudonim dari Norma McCorvey – yang didampingi oleh pengacara Sarah Weddington melawan Henry Wade yang merupakan Jaksa Wilayah daerah Dallas. Kasus ini dikenal dengan kasus Roe v Wade. Sangat mengejutkan bahwa kasus ini ternyata bisa menang, Supreme Court berpendapat bahwa aborsi merupakan hak konstitusional dan segera menjadi preseden di seluruh Amerika Serikat. Klinik aborsi pun mulai bertebaran. Perempuan dapat dengan aman dan mudah mengakses aborsi di seluruh wilayah Amerika.

Film ini memang sarat dengan perjalanan hukum kasus Roe di pengadilan, sehingga ketika menonton saya harus memahami benar bagaimana konteks hukum, politik dan sosial di Amerika Serikat. Bagaimana dinamika situasi sosial politik dan bagaimana pemilihan hakim Supreme Court oleh presiden bisa begitu mempengaruhi politik hukum dari kasus Roe v Wade.

Kasus Roe v Wade memang menang, namun bukan berarti berjalan mulus, karena banyak upaya yang dilakukan untuk ‘menantang’ kasus Roe agar bisa diubah bahkan dibatalkan. Tantangan tersebut tentu berasal dari kelompok agamis, pro life, kemudian dijadikan celah strategi manuver politik oleh partai Republik untuk menggaet massa dan pemilih dengan mengusung isu pro life / anti abortion sebagai bahan kampanye mereka. Hal ini semakin mendorong putusan Roe di ujung tanduk. Benar saja, di tahun 1992 ada kasus aborsi yang naik ke Supreme Court, kala itu komposisi hakim yang pro terhadap kasus Roe tidak imbang, sehingga ada 3 (tiga) orang hakim yang alih-alih mempertahankan atau membatalkan, mereka justru mereformasi aturan terkait aborsi, putusan yang rancu itu juga membolehkan negara-negara bagian mengatur aborsi dalam aturan lokal masing-masing.

Dampaknya pada tahun 2012 terdapat Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait pembatasan aborsi yang akan dibahas para Senator di Texas. Wendy Davis merupakan satu-satunya senator perempuan berupaya untuk menentang dan menahan RUU tersebut. Upaya Davis menarik perhatian orang-orang, mereka memenuhi gedung senat untuk memberikan dukungan. Sesi tersebut adalah sesi terakhir, di Texas ada aturan bahwa ketika agenda pembahasan berjalan, para senat tidak boleh minum, dilarang keluar ruangan bahkan untuk ke toilet, sehingga Davis harus menggunakan kateter dan sepatu lari agar ia bisa berdiri dan bertahan selama 13 jam untuk berbicara dan terus menyuarakan bahwa aborsi merupakan hak perempuan. Akhirnya, RUU tersebut tidak lolos. Ini belum selesai. RUU tersebut diajukan kembali dan akhirnya lolos. Sekarang semakin berkurang klinik aborsi yang bisa di akses perempuan dan sangat terbatas di beberapa negara bagian Amerika.

4. Knock Down The House

Credit : https://knockdownthehouse.com/resources/#story

Knock Down The House merupakan film dokumenter lain yang tak kalah menggugah. Film ini bercerita tentang para perempuan calon kandidat kongres independen yang berjuang agar bisa dipilih dan menyuarakan hak.

Ketika tragedi menimpa keluarganya di tengah krisis keuangan, Alexandria Ocasio-Cortez yang lahir di Bronx harus bekerja dua shift di sebuah restoran untuk menyelamatkan rumahnya dari penyitaan. Setelah kehilangan orang yang dicintai karena kondisi medis yang dapat dicegah, Amy Vilela tidak tahu harus berbuat apa dengan kemarahan yang dia rasakan tentang sistem perawatan kesehatan Amerika yang rusak. Cori Bush ditarik ke jalan ketika polisi yang menembak seorang pria kulit hitam tak bersenjata membawa protes dan tank ke lingkungannya. Paula Jean Swearengin muak melihat teman-teman, keluarganya menderita dan mati akibat pengaruh lingkungan dari industri batu bara.

Pada saat menguapnya sejarah dalam politik Amerika, keempat perempuan ini memutuskan untuk melawan, menempatkan diri mereka dalam perjalanan yang akan mengubah hidup dan negara mereka selamanya. Tanpa pengalaman politik atau uang perusahaan, mereka membangun gerakan kandidat pemberontak yang menantang petahana yang kuat di Kongres. Upaya mereka menghasilkan kekalahan tak terduga yang legendaris.

***

Film-film di atas mengisahkan bagaimana perjalanan dan pergulatan hidup perempuan yang dimulai sedari usia anak, merebut kembali otonomi atas tubuh, melawan stigma hingga upaya mengguncang kemapanan kekuasaan politik. Mereka adalah Pembela Hak Asasi Manusia.

Bertepatan dengan momentum serangkaian kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, salah satunya adalah tanggal 29 November yang dikampanyekan sebagai International Women Human Rights Defender Day, kita bisa ikut serta menyuarakan hak perempuan.

Istilah Pembela Hak Asasi Manusia mulai dikenal sejak 9 Desember 1998. Sidang Umum PBB mengesahkan Deklarasi Hak dan tanggung jawab dari Para Individu, Kelompok dan Organ Masyarakat untuk Memajukan dan Melindungi Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Fundamental yang Diakui secara Universal (Declaration on the Right and Responsibility of Individuals and Organs of Society to promote and Protect Universally Recognized Human RIghts and Fundamental Freedoms). Deklarasi ini dikenal sebagai Deklarasi Pembela HAM. Perempuan pembela HAM, pantas mendapat perhatian secara khusus. Pembela HAM yang perempuan atau disebut sebagai Perempuan pembela HAM menghadapi risiko yang berbeda karena ada persoalan ketidakadilan ketimpangan gender di masyarakat yang patriarkis. Kekhasan perempuan pembela HAM dalam berjuang adalah bisa mengidentifikasi permasalahan lebih detail. Sehingga perjuangan bisa lebih mudah karena dapat membuka kedua mata untuk melihat persoalan riil yang telah terjadi maupun berpotensi terjadi.

Di Indonesia, sudah banyak sejarah dan kisah perjuangan perempuan yang melawan hingga saat ini. Mereka memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan, pendidikan, hak kesetaraan, hak kesehatan seksual dan reproduksi, mempertahankan tanah mereka, menghalau kerusakan lingkungan, dan seterusnya. Tanpa kita sadari, kita pun sebagai perempuan dengan segala pengalaman kita turut memperjuangkan hak-hak asasi kita selama ini dengan cara kita masing-masing. Percayalah bahwa kita tidak sendirian dan perubahan merupakan keniscayaan meski harus berhadapan dengan kuasa dan budaya patriarki yang mengakar sepanjang hidup kita. Mari kita refleksikan bersama perjuangan perempuan dan kelompok minoritas lainnya; menjadi berbeda dan luar biasa! semoga bisa menambah daya perjuangan kita sebagai Women Rights Defender.

 

Sumber :
Manual Perlindungan Bagi Pembela HAM Komunitas, Protection International & Perkumpulan Huma, 2017
https://thepadproject.org/period-end-of-sentence/
https://knockdownthehouse.com/#story
Mayalatifas
Author: Mayalatifas

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here