Swallow (2019), Film Drama-Thriller tentang Trauma Perempuan dan Otoritas Tubuh

34

Trigger warning: Pica, PTSD, sexual violence

Kebanyakan wacana aborsi memaparkan isu sebatas pada sisi moralitas, padahal sebenarnya hal tersebut merupakan preferensi individu. Jarang sekali yang membicarakan mengenai efek jangka panjang bagi mereka pemilik tubuh. Awal tahun 2020 ini, kita diperkenalkan oleh film bergenre drama-thriller/horor yang baru bisa saya akses menjelang halloween. Film ini dapat menggambarkan bagaimana sebenarnya dimensi berlapis yang harus dihadapi oleh seseorang yang tidak dapat mengakses layanan aborsi, terutama ketika kehamilan tersebut disebabkan oleh kekerasan. Sebaliknya, aborsi dapat menjadi sesuatu yang membebaskan dan menunjang kesehatan mental seseorang. Spoiler alert!

Seperti judulnya, Swallow, yang berarti “menelan” menceritakan mengenai obsesi Hunter (Haley Bennet) menelan benda-benda aneh (mulai dari kelereng, jarum, hingga batu baterai) dan berbahaya selama masa kehamilan. Obsesi ini tidak muncul dengan tiba-tiba, namun dipicu oleh kehamilan. Mengapa begitu? Kita harus menilik latar belakang Hunter dengan lebih dalam. Hunter merupakan seorang Ibu Rumah Tangga yang menikah dengan seorang yang sangat kaya bernama Richie (Austin Stowell). Keluarga Hunter masih sangat dekat dengan keluarga Richie — namun dekat bukan berarti baik.

Dalam film, Hunter digambarkan sebagai karakter yang submisif dan menyerupai boneka dengan rambut blonde dan gaun bernuansa pastel. Keluarga Richie yang sangat-sangat kaya merasa superior dan tidak berhenti mengingatkan Hunter bahwa apa yang dapat Hunter “miliki” sekarang adalah berkat mereka. Tanpa menikahi Richie, Hunter bukanlah siapa-siapa, hanya seorang perempuan kelas bawah, tidak memiliki harta dan miskin akan keterampilan. Hunter berada di bawah kendali keluarga Richie dan ia merasa tidak memiliki kontrol terhadap apapun di hidupnya, hingga suatu saat ia memiliki cara untuk merasakan kebebasan: menelan benda-benda tidak biasa secara sembunyi-sembunyi. Itulah rahasia yang Hunter simpan untuk dirinya sendiri, tanpa ada orang lain tahu.

Kehamilan, seringkali merupakan bentuk kontrol terhadap tubuh perempuan, di mana perempuan diposisikan sebagai “alat” reproduksi keturunan. Dalam masyarakat kelas atas, anak merupakan ahli waris sehingga perempuan diharapkan menghasilkan keturunan agar kekayaan tetap berputar. Saat melakukan USG, rahasia Hunter terungkap. Keluarga Richie marah besar dan menekan Hunter agar tetap melanjutkan kehamilannya dengan aman, setidaknya sampai bayi mereka lahir. Keluarga tersebut kemudian menyewakan seorang pengawas, atau lebih tepatnya seorang pengasuh dan membawanya kepada seorang psikiater. 

Dalam sesi terapi yang dilaluinya, ia menyadari bahwa ia menemukan ruang aman tempat ia berekspresi dan menceritakan berbagai rahasia dan masa lalunya. Kemudian terungkap bahwa Hunter merupakan anak yang lahir dari kasus kekerasan seksual. Pelakunya ditangkap dan dipenjara namun akibat ibu Hunter dikelilingi oleh orang-orang konservatif, sayap kanan ekstrim, yang masih memiliki anggapan bahwa aborsi merupakan tindakan kejam dan sebagai wujud dosa, maka ibunya dipaksa untuk melanjutkan kehamilannya. Kasus kehamilan akibat perkosaan mengimplikasikan trauma berkepanjangan. Ibunya mengalami trauma berlapis, terutama pasca melahirkan, ketika ia tidak diberikan pilihan apa-apa selain merawat anaknya. Sedihnya, ibunya mengalami pengucilan sosial yang dilakukan oleh keluarganya, padahal ia adalah seorang penyintas.

Dalam lingkungan keluarga, relasi ibu-anak yang terjalin antara Hunter dan Ibunya menjadi terganggu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Foster (2018), dampak terhadap penolakan terhadap aborsi efeknya jangka panjang dan tidak hanya menyentuh dimensi sosial-ekonomi namun juga terhadap kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Perempuan yang permintaan aborsinya ditolak juga cenderung mengalami masalah kejiwaan seperti kecemasan, depresi hingga PTSD (Post-traumatic stress). Dalam film ini, Hunter merasa tidak diinginkan dan selalu mendapatkan penolakan. Walau ketika ia bercerita, wajahnya dihiasi senyum lebar dan meyakinkan psikiaternya bahwa keluarganya lengkap dan sempurna. Kenyataannya hal itulah yang menjadi akar dari penyakit Hunter: bahwa ia selalu dikucilkan, dialienasi sehingga ia berusaha untuk tetap menjadi apa yang orang lain inginkan agar dapat diterima. 

Di sini terlihat mengenai bagaimana pentingnya mendukung pilihan perempuan atas tubuhnya. Pemaksaan terhadap melanjutkan kehamilan memiliki efek domino, tidak berhenti sekadar pilihan melanjutkan atau mengakhiri kandungannya. Dalam Turnaway Study dijelaskan bagaimana efek jangka panjang dari tindak aborsi: perempuan Amerika, dalam jangka waktu 5 tahun merasa puas dengan keputusan mereka dan cenderung memiliki  kualitas hidup lebih baik di berbagai dimensi, bertolak belakang bagi mereka yang tidak bisa mengakses layanan aborsi.

Fastforward pada akhirnya, Hunter yang berhasil kabur dari rumah neraka tersebut akhirnya memutuskan untuk melakukan aborsi dengan cara self-medication, dengan menyelipkan pill di pipinya yang ia lakukan di toilet umum karena menjadi tunawisma (homeless) namun ia tidak keberatan dengan pilihan tersebut. Di dalam film digambarkan Hunter menghadap kaca di toilet umum dengan tatapan puas terhadap dirinya dan gestur bangga terhadap pilihannya.

Swallow atau menelan merupakan simbol perlawanan Hunter pada opresi yang ia terima dari lingkungannya. Ketika ia menelan benda-benda tajam dan tidak biasa, ia merasa in control dan in charge terhadap tubuhnya. Terutama ketika ia memutuskan untuk menelan pill MA (Medical Abortion) sebagai bentuk kebebasan dan pemutusan rantai trauma. Shot close-up banyak digunakan dalam film dan memperlihatkan dengan jelas ekspresi Hunter, hingga pada garis-garis wajahnya. Seperti pipinya yang merah merona dan gesturnya yang menunjukkan keluguan, seperti anak-anak. Selain itu, tone warna yang cold namun colorful membawa kesan “hidup mewah”.

Pada akhirnya, film berusaha menunjukkan dimensi berlapis dari permasalahan perempuan mulai dari kekerasan berbasis gender hingga pembatasan otonomi tubuh perempuan dan hal tersebut bersifat struktural. Sebab, implikasi psikologis dan sosial terhadap penolakan aborsi memiliki efek jangka panjang terutama bila kehamilan disebabkan oleh kasus kekerasan. Semua pihak harus terlibat dan memiliki pemahaman komprehensif soal ini: mulai dari negara hingga institusi sosial sekitar perempuan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here