Memperingati Hari Kartini tahun ini, bukannya pamer foto pakai kebaya atau menulis caption motivasi yang menggugah untuk menguatkan sesama kawan-kawan perempuan sebagaimana yang sering kulakukan untuk pencitraan. Tahun ini rasanya aku seringkali terbentur pada pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang selama ini aku yakini dan perjuangkan. Apakah aku sudah benar-benar memahami apa itu kesetaraan? Bagaimana cara memperjuangkan dan menginternalisasikannya dalam tindakan sehari-hari mulai dari hal kecil, sebagaimana yang dilakukan oleh Kartini dan perempuan-perempuan pejuang lain pada masanya?

Dimulai dari memaknai kesetaraan, aku bertanya-tanya apa sebenarnya kesetaraan itu? Bagaimana bentuknya? Apakah setara artinya menjadi sama dan sederajat dengan kaum yang selama ini ada di posisi superior dan dominan? Apakah untuk setara harus menjadi superior dan dominan juga? Lantas bagaimana dengan orang-orang yang tak punya kesempatan untuk menjadi superior dan dominan?

Bicara superioritas dan dominasi, sudah merupakan rahasia umum kalau hal ini hanya dapat dicapai jika memiliki privilege, sebagaimana Kartini yang jadi ikon emansipasi dan kesetaraan gender karena ia punya privilege untuk mempromosikan perjuangannya hingga hari ini. Bayangkan jika Kartini bukan keturunan ningrat, buta huruf, tidak punya akses terhadap ilmu pengetahuan, sebagaimana perempuan-perempuan lain pada zamannya, apa ia akan tetap punya pemikiran seperti yang kita kenal hari ini? Bayangkan jika Kartini bukan berjuang untuk pendidikan dan kesejahteraan perempuan, tapi untuk menciptakan ruang aman, memberdayakan janda-janda korban perang, dan melawan balik penjajah seperti yang dilakukan Malahayati bersama pasukan Inong Balee, aku ragu apakah dia akan tetap jadi ikon kesetaraan di Indonesia hingga hari ini.

Aku tidak sedang mengecilkan sosok Kartini dan perjuangannya. Ia sangat layak untuk dikagumi dan dikenang sebagaimana perempuan-perempuan pejuang lainnya juga layak untuk menerima penghormatan yang sama seperti yang kita berikan pada Kartini. Aku sedang mempertanyakan kembali apakah tindakan kita menjadikan Kartini sebagai ikon kesetaraan adalah sebuah bentuk sikap yang didasari kesetaraan? Kartini menurutku jelas tokoh yang superior dan dominan ketimbang banyak pahlawan perempuan lainnya. Aku kembali pada pertanyaanku, apakah menjadi perempuan yang setara dengan lelaki artinya harus menjadi superior dan dominan seperti lelaki dalam standar maskulinitasnya?

Di dunia yang maskulin ini, kita seringkali latah memaknai kesetaraan gender dengan standar-standar maskulinitas. Bahwa untuk setara maka kita harus mampu bersaing dengan lelaki, memiliki kualitas-kualitas yang ditetapkan dalam standar maskulinitas seperti kuat (baik itu secara fisik maupun psikis), mampu mengembangkan kemampuan rasional dan menekan perkembangan emosional, punya karir publik yang baik, menjadi pemimpin, dan lain sebagainya. Kenyataannya, kita tidak sedang belajar menginternalisasikan nilai-nilai kesetaraan, tapi sedang mengonversi standar maskulinitas menjadi standar kesetaraan gender dan memang inilah tujuan dari budaya patriarki: menciptakan dunia yang maskulin dan terus menjaga kelestariannya. Iya, patriarki sudah ber-evolusi sejauh dan sekuat itu!

Sebenarnya, di dunia yang menerapkan standar maskulin ini, untuk menjadi setara perempuan tak perlu ikut-ikutan latah dan berlomba memenuhi standar maskulinitas. Tidak perlu berteriak sangat keras mengatakan kalau perempuan juga bisa memimpin untuk membuktikan perempuan layak disetarakan dengan lelaki. Jadi pemimpin atau tidak, perempuan, lelaki, dan semua gender adalah manusia yang setara. Lagipula setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Kalau kita lebih nyaman dengan menjadi emosional, kenapa harus berusaha begitu keras menjadi rasional agar dianggap punya kualitas personal yang baik? Dunia yang setara akan memperlakukan orang yang rasional maupun emosional dengan cara yang sama. Lagipula, bukankah manusia menjadi utuh dan dapat berfungsi dengan baik karena memiliki keduanya?

Karir publik dan domestik sama baiknya selama dilakukan atas dasar pilihan yang bertanggung jawab, bukan paksaan, bukan manipulasi. Memasak dan berdandan tidak lebih buruk daripada menjadi akuntan atau arsitek selama semua pihak diberikan kesempatan dan akses yang sama untuk mengembangkan potensinya. Kita perlu sepakat bahwa tak ada pekerjaan yang mudah. Kalau begitu, apakah masih relevan jika kita memandang satu ranah pekerjaan lebih baik dari ranah yang lain?

Bukan hal mudah memang untuk menggali dan menginternalisasi kesetaraan, itu sebabnya kita terus berjuang. Memang rasanya akan lebih mudah untuk percaya bahwa setara berarti ada di posisi yang sama dengan pihak-pihak superior dan dominan, menjadi bagian dari mereka. Namun bukankah itu sama saja kita mengamini bahwa kesetaraan berarti hanya dapat dimiliki oleh perempuan-perempuan yang memiliki privilege seperti Kartini dan mengabaikan perempuan-perempuan lainnya yang hidup tanpa privilege seperti Malahayati? Itu sama saja mencederai nilai kesetaraan. Alih-alih demikian, mengapa tidak mulai belajar membangun ruang aman tempat perempuan dan semua gender inferior dapat menjadi setara dan bebas menjadi apa yang diinginkan?

Kartini yang menjadi ikon kesetaraan memang tampak sebagai sosok superior dan dominan di antara pahlawan-pahlawan perempuan lain, namun bukan berarti kita harus mengamini bahwa menjadi setara adalah sejajar dengan si superior dan dominan. Bagiku, setara adalah punya kebebasan untuk memilih, punya kesempatan dan akses yang sama, serta tidak ada dominasi atas yang lain. Tidak ada Kartini tanpa Malahayati dan perempuan-perempuan lain yang juga berjuang untuk kebebasan dan kesejahteraan dengan caranya masing-masing. Bayangkan dunia di mana semua orang setara dan bisa berdaya atas dirinya sendiri. Menyenangkan kan?
D. Purnama
Author: D. Purnama

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here