Hari Keluarga Internasional mungkin bukan momen internasional yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagaimana Hari Buruh Sedunia atau Hari Pers Sedunia, sebab itu animonya pun tidak setinggi momen-momen internasional lain yang sudah lebih akrab di masyarakat. Hari Keluarga Internasional diperingati setiap tanggal 15 Mei.  Majelis umum PBB memproklamasikan hari tersebut melalui resolusi A/RES/47/237 pada tahun 1993 dengan mempertimbangkan kepentingan hubungan komunitas internasional dengan keluarganya.

PBB akan memberikan tema-tema berbeda setiap tahun untuk memperingati Hari Keluarga Internasional. Tahun 2021 ini misalnya, tema yang diusung adalah Families and New Technologies. Namun, di Indonesia sendiri seringnya Hari Keluarga Internasional hanya dirayakan oleh komunitas atau organisasi tertentu tanpa mengusung tema spesifik atau terlepas dari tema yang muncul setiap tahunnya, demikian halnya dengan tulisan ini. Alih-alih membicarakan keluarga dan teknologi baru seperti tema besarnya tahun ini, aku rasa kita masih perlu membahas sampai tuntas hal-hal fundamental terkait perencanaan keluarga itu sendiri.

Hari Keluarga Internasional tahun ini berdekatan dengan perayaan Idul Fitri 1442 Hijriah yang jatuh pada hari Kamis, 13 Mei 2021. Seharusnya ini jadi momen yang sangat pas untuk sekalian memperingati Hari Keluarga Internasional bersama keluarga, baik itu keluarga besar maupun keluarga inti.

Sayangnya, membicarakan kaitan antara keluarga dan teknologi terasa terlalu mengawang-awang dan hampir tidak mungkin dilakukan saat momen-momen kumpul keluarga selalu disesaki dengan obrolan yang tak jauh-jauh ujung pangkalnya dari pertanyaan “kapan nikah?” dan “kapan punya anak?”. Seolah merupakan bagian dari tradisi, topik-topik obrolan tersebut seperti menjadi menu wajib di setiap rumah bersama ketupat dan opor ayam di hari lebaran.

Bukankah topik obrolan terkait rencana pernikahan dan rencana punya anak rasanya terlalu personal untuk di bahas di tengah keluarga? Terlebih jika pertanyaan itu kemudian berkembang ke sana kemari dan menyentuh ruang-ruang yang lebih privat seperti kriteria calon pasangan, keputusan terkait bentuk keluarga, kesuburan, jumlah anak, usia produktif, bahkan pekerjaan dan gaji.

Kebiasaan melontarkan pertanyaan dan pernyataan demikian ini sudah dinormalisasi begitu lama sehingga menjadi saru batasnya dengan celetuk gurauan atau wejangan sebagai bentuk perhatian. Padahal, wejangan hanya perlu diberikan jika diminta, dan topik-topik privat orang lain tidak seharusnya menjadi bahan gurauan di momen kumpul keluarga. Gurauan dan wejangan juga seringkali jadi simpulan penutup pembicaraan saat topik itu dirasa sudah membuat gerah. Klise! 

Perencanaan keluarga adalah topik obrolan yang privat dan tidak seharusnya dicampuri siapapun dengan alasan apapun jika itu berpotensi membuat keputusan menjadi bias. Setiap orang punya hak dan kapasitas masing-masing untuk membuat keputusan terkait perencanaan keluarganya. Hak untuk merencanakan keluarga dicetuskan dalam 12 Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (12 HKSR) yang dirumuskan oleh International Planned Parenthood Federation (IPPF) pada tahun 1996. Poin 7 dan 8 secara tegas menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk memilih bentuk keluarga, membangun dan merencanakan berkeluarga, serta memutuskan kapan dan akan punya anak atau tidak. Mencampuri keputusan orang lain dalam perencanaan keluarga, apalagi menjadikan hal ini sebagai bahasan publik sama saja melanggar hak orang tersebut dan meragukan kapasitasnya untuk membuat keputusan atas tubuh dan dirinya sendiri.

Mengapa penting untuk membicarakan perencanaan keluarga dalam 12 HKSR? Mengapa penting untuk kita menuntaskan bahasan terkait hal-hal fundamental yang mendasari perencanaan keluarga? Sebab penting bagi kita semua untuk mengetahui bahwa perencanaan keluarga merupakan bagian dari hak kita sebagai individu.

Itu berarti kita punya kebebasan untuk memutuskan dan membuat perencanaan keluarga tanpa desakan, paksaan, tuntutan, atau bahkan ancaman dari pihak manapun. Hal ini adalah pengetahuan dasar yang penting untuk dipahami bersama agar setidaknya topik-topik privat terkait perencanaan keluarga tidak lagi menjadi konsumsi di meja makan bersama ketupat dan opor saat momen kumpul keluarga di hari raya.

Memang terasa agak mustahil mengharapkan tidak ada lagi topik privat yang dibahas dalam momen kumpul keluarga. Aku sangat mengerti bahwa bahasan terkait hak untuk merencanakan keluarga ini bukan hal populer. Bukan perkara mudah untuk membawa naik bahasan ini ke permukaan, apalagi di tengah-tengah keluarga yang mungkin jarang atau belum pernah sama sekali terpapar dengan isu-isu serupa. Aku juga tidak menyarankan untuk menjelaskan panjang lebar hal ini di tengah momen kumpul keluarga, tapi kita tetap punya pilihan untuk bersuara atau bungkam. Mungkin saat kita bicara pada satu anggota keluarga, itu juga akan membuat satu perubahan. Mungkin memang tidak besar, tapi ada. Siapa tahu di tahun-tahun berikutnya kita juga bisa merayakan Hari Keluarga Internasional dengan menyenangkan dan membiarkan topik privat setiap orang tetap pada tempatnya. Siapa tahu?

D. Purnama
Author: D. Purnama

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here